Share

Sempat Pulang dari RS, Siswa SD Korban Perundungan di Malang Kembali Dirawat

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 29 November 2022 14:38 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 29 519 2717071 sempat-pulang-dari-rs-siswa-sd-korban-perundungan-di-malang-kembali-dirawat-qvZsPSHWTG.jpg Ayah dari siswa SD di Malang yang menjadi korban bullying, Edi Subandi. (MNC Portal/Avirista Midaada)

MALANG - Siswa sekolah dasar (SD) korban perundungan (bullying) di Malang kembali dirawat rumah sakit. Siswa berinisial MWF (7), warga Kepanjen, Kabupaten Malang, itu kini dirawat di RSUD Kanjuruhan, Kepanjen. Sebelumnya ia sempat pulang setelah menjalani perawatan di RSI Gondanglegi, Malang pada Sabtu (26/11/2022).

Bocah kelas 2 SDN Jenggolo I Kepanjen, Kabupaten Malang, ini dirawat karena harus menjalani pemeriksaan CT scan dan observasi ke dokter spesialis saraf.

Ayah korban, Edi Subandi mengatakan, CT scan dilakukan pada sekitar pukul 09.30 WIB. Kini pihaknya sedang menunggu hasil pemeriksaan CT scan yang diperkirakan keluar hari ini sambil menunggu hasil observasi dokter saraf.

"Saat kita ke RSUD Kanjuruhan, disarankan untuk CT scan ulang dan ini tadi baru selesai," ucap Edi Subandi ditemui di ruang Radiologi RSUD Kanjuruhan, selasa (29/11/2022).

Pria berusia 39 tahun ini menjelaskan, pemeriksaan CT scan ini untuk memastikan kondisi perkembangan dari pembengkakan di otak dan pendarahan yang dialami MW.

"Saat ini masih merasakan pusing. Ini kita masih nunggu hasil CT scan dan observasi dokter saraf. Memang kemarin sempat pulang dari rumah sakit," ujarnya.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Sebagaimana diketahui, MWF diduga mengalami perundungan yang dilakukan kakak kelasnya yang duduk di bangku kelas VI SD. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (11/11/2022).

Akibat perundungan itu, korban mengalami kejang-kejang dan koma hingga dilarikan ke rumah sakit. Korban divonis mengalami pembengkakan dan pendarahan pada bagian otak.

Dugaan sementara, perundungan terjadi atas motif pemalakan yang dilakukan para pelaku kepada korban. Bahkan, para pelaku disebut kerap melakukan hal serupa kepada siswa lain.

Polisi telah melakukan pendalaman terkait dugaan perundungan tersebut. Sejauh ini ada 12 saksi yang telah diperiksa tim penyidik.

Saksi-saksi tersebut meliputi 1 orang keluarga korban, 1 guru, 3 teman korban yang mengetahui peristiwa perundungan, dan 7 ABH (anak yang berhadapan dengan hukum).

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini