Share

Jaksa Agung: Polisi Moralitas Iran yang Tegakkan Aturan Berpakaian Islami Dibubarkan

Susi Susanti, Okezone · Senin 05 Desember 2022 09:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 05 18 2720550 jaksa-agung-polisi-moralitas-iran-yang-tegakkan-aturan-berpakaian-islami-dibubarkan-d40DZR0Q4L.jpg Protes anti-pemerintah di Iran terkait kematian Mahsa Amini (Foto: AFP)

IRAN – Jaksa Agung Iran Mohammad Jafar Montazeri mengatakan polisi moralitas Iran, yang bertugas menegakkan aturan berpakaian Islami di negara itu telah dibubarkan.

Pernyataan Montazeri ini dikeluarkan di sebuah acara pada Minggu (4/12/2022), namun belum dikonfirmasi oleh agensi lain.

Montazeri diketahui sedang menghadiri konferensi agama ketika dia ditanya apakah polisi moralitas dibubarkan.

Baca juga: Kelompok HAM: 448 Orang Meninggal Akibat Protes Iran, Setengah Lebih di Antaranya di Wilayah Etnis Minoritas

"Polisi moralitas tidak ada hubungannya dengan peradilan dan telah ditutup dari tempat mereka didirikan," katanya, dikutip BBC.

Baca juga: 300 Orang Meninggal dalam Protes Nasional, PBB Sebut Situasi di Iran Kritis

Di Iran, kontrol kekuatan terletak pada kementerian dalam negeri dan bukan pada peradilan.

Pada Sabtu (3/12/2022), Montazeri juga mengatakan kepada parlemen Iran bahwa undang-undang yang mewajibkan wanita mengenakan jilbab akan ditinjau.

Bahkan jika polisi moral ditutup, ini tidak berarti undang-undang yang sudah berumur puluhan tahun akan diubah.

Jika dikonfirmasi, penghapusan polisi moralitas akan menjadi konsesi tetapi tidak ada jaminan itu akan cukup untuk menghentikan protes, yang membuat para demonstran membakar penutup kepala mereka.

Follow Berita Okezone di Google News

"Hanya karena pemerintah telah memutuskan untuk membubarkan polisi moralitas, itu tidak berarti protes berakhir," kata seorang wanita Iran kepada program Newshour BBC World Service.

"Bahkan pemerintah mengatakan jilbab adalah pilihan pribadi tidak cukup. Orang-orang tahu Iran tidak memiliki masa depan dengan pemerintah ini berkuasa. Kita akan melihat lebih banyak orang dari berbagai faksi masyarakat Iran, moderat dan tradisional, keluar untuk mendukung perempuan. mendapatkan lebih banyak hak mereka kembali,” lanjutnya.

"Kami, para pengunjuk rasa, tidak peduli lagi dengan jilbab. Kami telah keluar tanpa itu selama 70 hari terakhir,” ujar wanita lain.

"Sebuah revolusi adalah apa yang kami miliki. Hijab adalah awalnya dan kami tidak menginginkan apapun, apapun yang kurang dari itu, kecuali kematian untuk diktator dan perubahan rezim,” terangnya.

Seperti diketahui, Iran telah menyaksikan protes berbulan-bulan atas kematian seorang wanita muda dalam tahanan. Mahsa Amini telah ditahan oleh polisi moral karena diduga melanggar aturan ketat tentang penutup kepala.

Protes yang dipimpin perempuan ini diberi label "kerusuhan" oleh pihak berwenang, telah melanda Iran sejak Amini yang berusia 22 tahun meninggal dalam tahanan pada 16 September lalu, tiga hari setelah ditangkap polisi moralitas di Teheran.

Kematian ini menjadi pemicu kerusuhan dan juga mengikuti ketidakpuasan atas kemiskinan, pengangguran, ketidaksetaraan, ketidakadilan, dan korupsi.

Iran telah memiliki berbagai bentuk "polisi moralitas" sejak Revolusi Islam 1979. Namun versi terbaru yang dikenal secara resmi sebagai Gasht-e Irsyad menjadi badan utama yang bertugas menegakkan kode etik Islam Iran.

Mereka memulai patroli pada 2006 untuk menegakkan aturan berpakaian. Termasuk mewajibkan perempuan untuk memakai pakaian panjang dan melarang celana pendek, jins robek, dan pakaian lain yang dianggap tidak sopan.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini