BEIJING – China telah mengumumkan perubahan paling besar pada rezim anti-Covid yang keras sejak pandemi dimulai tiga tahun lalu. Pemerintah China melonggarkan aturan yang mengekang penyebaran virus tetapi telah melumpuhkan ekonomi terbesar kedua di dunia dan memicu protes.
(Baca juga: Protes Covid-19 China Memanas, Demonstran Tuntut Presiden Xi Jinping Mundur)
Relaksasi aturan, yang termasuk mengizinkan orang yang terinfeksi dengan gejala ringan atau tanpa gejala untuk dikarantina di rumah dan menghentikan pengujian untuk orang yang bepergian di dalam negeri, adalah tanda terkuat bahwa Beijing sedang mempersiapkan warganya untuk hidup dengan penyakit tersebut.
“Sudah saatnya hidup kita kembali normal, dan China kembali ke dunia," tulis seorang pengguna Weibo sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (9/12/2022).
(Baca juga: Isu Kudeta di China, 'Xi Jinping Jadi Tahanan Rumah' Trending di Twitter)
Sebelumnya, Partai Komunis China (PKC) yang menguasai jalannya pemerintah akan menindak tegas semua kegiatan menyusul demonstrasi jalanan terbesar dalam beberapa dekade oleh warga yang marah dengan kebijakan lockdown karena Covid-19 kembali merebak di China.
Unjuk kekuatan besar-besaran oleh dinas keamanan China, bertujuan untuk mencegah protes lebih lanjut dan menjalar ke wilayah-wilayah lainnya. Kendaraan lapis baja terlihat terparkir di jalan-jalan kota, sementara polisi dan pasukan paramiliter melakukan pemeriksaan ID secara acak dan menggeledah ponsel orang untuk mencari foto, aplikasi yang dilarang atau bukti potensial lainnya bahwa mereka telah mengambil bagian dalam demonstrasi.
Belum diketahui jelas jumlah orang yang ditahan saat hingga paska demonstrasi besar-besaran menuntut pencabutan kebijakan nol persen Covid-19 dengan cara me-lockdown total rakyat China.
Menanggapi hal ini, Center for Indonesian Domestic and Foreign Policy Studies (Centris) menilai, meski telah mengeluarkan pernyataan yang terkesan keras dan menerjunkan simbol-simbol stabilitas negara ditengah masyarakat.