Sekitar seperempat populasi di Aljazair diperkirakan Berber, sementara Berber diperkirakan berjumlah lebih dari tiga per lima populasi di Maroko.
Dalam sejarahnya, sebelum memeluk agama Islam, mayoritas orang Berber memeluk agama Kristen dan Yahudi. Menurut Ibnu Khaldun, dalam kitabnya yang berjudul al-Ibar perbedaan orang Berber dan Arab adalah tentang gaya hidup, ekonomi, hubungan dengan kekuasaan dan kondisi sosio politik.
Bangsa Berber diketahui memiliki kecondongan hidup nomaden atau berpindah-pindah tempat. Sedangkan bangsa Arab hidp dengan tinggal dalam satu kawasan.
Persaingan antara kedua bangsa terjadi pasca perpindahan kekuasaan Islam, dari Dinasti Umayyah ke Dinasti Abbasiyah. Persaingan tersebut menandai sejarah baru Islam di wilayah Afrika Utara dan Andalusia.
Diketahui, orang Berber di Afrika Utara, dikenal sebagai kelompok yang sering memberontak di masa islamisasi wilayah itu. Kelompok tersebut bahkan memiliki tren keagamaan yang disukai, yakni heterodoks dan gerakan sectarian.
Adanya hubungan yang kompleks, antara bangsa Berber dengan berbagai tren Islam, yang ditumpangkan dengan perselisihan kesukukan menjadi salah satu dasar sejarah munculnya dinasti-dinasti di wilayah Maghrib pada abad pertengahan.
Berakhirnya kekuasaan Dinasti Umayyah Damaskus (660-749) diketahui sebagai cikal bakal munculnya dinasti-dinasti baru di wilayah Afrika Utara dan Maghrib, yang didukung oleh bangsa Berber setempat. Di antaranya; Dinasti Idrisiyah Syiah (789-974) di Berberia Barat, Dinasti Rustamiyah Khawarij (777-909) di Berberia Tengah.