BEIJING - China telah mengumumkan bahwa persyaratan wajib karantina bagi para pelancong yang tiba di negara itu akan berakhir pada 8 Januari. Langkah tersebut adalah yang terbaru dari serangkaian pembatasan yang akan dicabut karena China meninggalkan kebijakan nol-Covid-nya.
Negeri Tirai Bambu itu melihat ledakan infeksi terkait Covid dan pekerja medis mengatakan mereka berjuang untuk mengatasinya.
BACA JUGA: Terus Melonjak, China Perkirakan 250 Juta Warga Tertular Covid-19 Selama Desember 2022
Dalam komentar pertamanya tentang perubahan tersebut, Presiden Xi Jinping mendesak para pejabat untuk melakukan apa yang "layak" untuk menyelamatkan nyawa.
Media pemerintah mengutip Xi Jinping yang mengatakan bahwa negara menghadapi situasi baru yang menuntut tanggapan yang lebih terarah.
China telah berhenti menerbitkan statistik Covid, tetapi diperkirakan ribuan orang meninggal setiap hari.
Diwartakan BBC, sejak Maret 2020, semua penumpang yang tiba di China harus menjalani karantina terpusat wajib. Namun, jangka waktunya semakin berkurang, dari awalnya tiga minggu menjadi hanya lima hari saat ini.
Di bawah aturan baru, Covid akan diturunkan dari penyakit menular Kelas A ke Kelas B, artinya karantina tidak lagi diberlakukan.
Menurut para analis, perubahan China dalam mengelola pandemi telah membuat Xi berada dalam posisi yang tidak nyaman. Pasalnya, dia adalah kekuatan pendorong di balik kebijakan nol-Covid, yang disalahkan karena membatasi kehidupan masyarakat secara berlebihan dan merugikan perekonomian.
Tetapi setelah meninggalkannya, dia sekarang harus bertanggung jawab atas gelombang besar infeksi dan rawat inap, terutama di kalangan orang tua.
Kemarahan publik atas penanganan pandemi oleh presiden adalah salah satu bidang yang paling rentan bagi Xi.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.