Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

KALEIDOSKOP 2022: Duka Mendalam Tragedi Kanjuruhan

Tim Okezone , Jurnalis-Selasa, 27 Desember 2022 |07:33 WIB
KALEIDOSKOP 2022: Duka Mendalam Tragedi Kanjuruhan
Aksi para suporter Aremania meminta keadilan bagi korban Tragedi Kanjuruhan. (Foto: Avirista Midaada)
A
A
A

TAHUN 2022 segera berakhir dan meninggalkan banyak kejadian. Salah satu yang paling kelam dan menyedot perhatian adalah Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang. Peristiwa itu hingga kini belum menemukan titik akhir dengan para korban yang terus megupayakan keadilan.

Tragedi Kanjuruhan terjadi pada Sabtu 1 Oktober 2022 malam usai laga panas antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Pertandingan yang digelar di Stadion Kanjuruhan itu sedianya hanya dihadiri oleh suporter Arema alias Aremania, sedangkan Bonek suporter Surabaya FC tidak diperbolehkan ke stadion guna mengantisipasi bentrokan.

Pertandingan berlangsung panas hingga skor akhir 3-2 untuk kemenangan Persebaya. Kekalahan itu lantas memantik kekecayaan Aremania dan tragedi itu bermula dari sini.

Detik-Detik Kejadian

Avirista Midaada, salah seorang jurnalis MPI yang berada di lokasi kejadian menggambarkan detik-detik chaos ketika tragedi memilukan pada Sabtu 1 Oktober 2022 malam tersebut.

Ia mengatakan sejatinya kick-off Arema FC kontra Persebaya Surabaya yang digeber pada 1 Oktober 2022 pukul 20.00 WIB berjalan normal, meski adanya tensi dan gengsi tinggi antara kedua tim untuk memenangkan laga pamungkas tersebut.

Dia mengaku ketika kick-of selesai dengan keunggulan Persebaya atas Arema FC dengan skor 3-2, suasana saat itu masih berjalan normal dan tidak terdapat huru-hara.

Meski menelan kekalahan, di rumput hijau para pemain Arema memberikan penghormatan kepada ratusan Aremania yang setia mendukung dari atas tribun Stadion Kanjuruhan hingga akhir pertandingan.

"Di sinilah naluri suporter muncul. Di Sektor 87 (Tribun Stadion Kanjuruhan) memunculkan satu orang suporter yang turun ke lapangan untuk menghampiri pemain," ujarnya.

Setelahnya, para Aremania banyak masuk ke dalam lapangan untuk memberikan penghormatan kepada pemain Arema FC, meski menelan kekalahan dalam laga tersebut.

Namun, aparat keamanan menilai ada sesuatu yang tidak tepat sebagai bentuk penyerangan, ketika banyak pendukung fanatik tim tersebut masuk ke lapangan stadion.

"Pemain Arema dirangkul oleh Aremania dan diberikan semangat. Namun, ada salah tafsir dari aparat bahwa itu penyerangan, kemudian gas air mata dilontarkan," ujarnya.

 

Lantas, tembakan gas air mata kedua dan ketiga kembali dilepaskan aparat ke arah tribun. Penonton berhamburan.

Mata para suporter terasa perih, begitupun dengan penglihatan Avirista bersama jurnalis lainnya yang samar-samar. Para pencari berita kemudian langsung menuju ruang VVIP untuk mendengarkan keterangan pers.

"Bahkan ketika pemain Arema memberikan keterangan pers, itu semua masih normal. Kita menyangkanya di luar, mungkin bisa dikondisikan kepolisian dan tidak banyak korban," ujarnya. 

 BACA JUGA:Tak Mau Tragedi Kanjuruhan Terulang, Polisi Dilarang Gunakan Gas Air Mata saat Amankan Laga Timnas Indonesia vs Kamboja

Tetapi, ketika keterangan pers selesai dan hendak mengetik naskah berita, Avirista teringat dari pesan dari salah seorang Aremania.

"Ayo Mas tulungi, iki arek-arek akeh sing mati (Ayo Mas, tolongin, ini banyak anak-anak yang mati). Waktu itu saya sempat meletakkan HP dan kamera, mungkinkah ini (chaos) yang terjadi," tanya Avirista ketika itu.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement