Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Jenderal Kopassus Tembak Mati Pemberontak saat Operasi Tempur Perdana

Tim Okezone , Jurnalis-Kamis, 12 Januari 2023 |07:05 WIB
Cerita Jenderal Kopassus Tembak Mati Pemberontak saat Operasi Tempur Perdana
Foto: kopassus.mil.id
A
A
A

JAKARTA – Mantan prajurit Kopassus Letjen TNI (Purn) Soegito membagikan pengalamannya saat menjadi Perwira Pertama RPKAD pada tahun 1964. Saat itu, dia mendapatkan perintah untuk mengejar gerombolan DI/TII di belantara Sulawesi yang dipimpin Kahar Muzakkar.

Dari sejumlah perwira yang dinyatakan lulus seleksi, tidak semuanya diberi kesempatan langsung mengikuti pendidikan dasar komando di Pusat Pendidikan Para Komando Angkatan Darat di Batujajar, Jawa Barat.

(Baca juga: Detik-Detik Barok Si Jagal Poso Meregang Nyawa Usai Baku Tembak dengan Kopassus di Gunung Biru)

Sebaliknya mereka dipecah ke dalam dua kelompok ada yang langsung mengikuti pendidikan komando di Batujajar, namun ada juga yang dikirim ke daerah operasi di Sulawesi Selatan. Kelompok pertama terpilih untuk melanjutkan ke pendidikan dasar komando, karena katanya sudah mempunyai pengalaman operasi.

"Saya bisa langsung dapat pengalaman operasi,"ujarnya dikutip dari buku Letjen (Purn) Soegito, Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen.

Perjalanan kapal yang cukup menyiksa, terutama saat kapal menyeberangi Laut Jawa, merontokkan nyali sebagian dari mereka karena mabuk laut. Setibanya di Ujung Pandang mereka mendapat informasi bahwa juniornya yang sudah lebih dulu tiba seperti Letda Inf Sintong Panjaitan dan Letda Inf Wismoyo sudah dikirim ke lapangan.

Mereka sudah lebih dulu menjadi organik RPKAD, karena usai kursus infanteri langsung ke baret merah namun belum mengikuti latihan komando. Karena sewaktu kursus infanteri belum mendapatkan pendidikan Para, mereka juga belum boleh memakai baret merah.

Selanjutnya, rombongan kecil ini digeser ke Parepare dengan menumpang truk militer. Di sepanjang perjalanan ke Parepare, mereka melihat banyak tentara berjaga di beberapa pos yang sudah dikuasai pasukan TNI.

Mereka didrop menggunakan helicopter di lokasi penugasan dengan rincian satu perwira satu point. Soegito diturunkan di Tanah Batue, sebuah kampung kecil di pedalaman yang masuk wilayah Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone. Karena merasa penugasannya tidak akan lama, Soegito meninggalkan pakaian cadangannya di Parepare.

Saat itu, di Tanah Batue sudah ada satu kompi dengan komandan Lettu Rahman. Belum lama Soegito bergabung di kompi ini, Letnan Rahman mendapat cuti dari tugas, yang otomatis menempatkan Soegito sebagai komandan kompi pengganti.

Kondisi serupa juga dialami Soetedjo dan mungkin beberapa perwira yang lainnya. Sepertinya sudah menjadi kebijakan dari komando atas untuk mengistirahatkan komandan kompi, supaya memberikan kesempatan kepada para perwira remaja mendapatkan pengalaman operasi tempur.

Akhirnya kesempatan itu pun dating juga. Dilaporkan ada gerombolan yang dicurigai sebagai pengikut Kahar Muzakkar, dalam perjalanan ke sebuah lokasi yang belum diketahui. Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk menjangkau posisi gerombolan ini. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Soegito langsung memutuskan untuk bergabung dengan peleton pemburu yang disiapkan.

Di dalam dirinya hanya ada semangat stoottroepen untuk memburu dan mendapatkan target. Pengalaman operasi yang akan meninggalkan kesan terdalam baginya kelak. Setelah beberapa hari menelusuri hutan dan sempat kembali merasakan sakit di bagian kakinya, peleton ini tiba di sebuah lokasi yang rupanya tidak jauh dari posisi gerombolan yang diburu.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement