Share

AS Hukum Insinyur China karena Jadi Mata-Mata, Pemimpin Dunia Diminta Waspada Aksi Spionase

Rafika Putri, Okezone · Kamis 02 Februari 2023 17:40 WIB
https: img.okezone.com content 2023 02 02 18 2757971 as-hukum-insinyur-china-karena-jadi-mata-mata-pemimpin-dunia-diminta-waspada-aksi-spionase-1J8UhPrKdJ.jpg Tangkapan layar media sosial

CHINA - Seorang insinyur China divonis delapan tahun karena memata-matai Amerika Serikat (AS), dalam kasus yang terkait dengan upaya China untuk mencuri rahasia dagang penerbangan.

Departemen Kehakiman AS, Ji Chaoqun (31), telah mengidentifikasi ilmuwan dan insinyur itu untuk kemungkinan perekrutan. Dia juga mendaftar di Cadangan Angkatan Darat AS dan berbohong kepada perekrut. Otoritas AS mengatakan Ji bekerja di bawah arahan unit kunci intelijen negara China.

(Baca juga: Insinyur China Dihukum Penjara Selama 8 Tahun karena Jadi Mata-Mata AS untuk Curi Rahasia Dagang Penerbangan)

Berdasarkan pernyataan Departemen Kehakiman, Ji tiba di AS dengan visa pelajar satu dekade lalu. Dia dituduh memberikan informasi kepada Kementerian Keamanan Negara Provinsi Jiangsu (JSSD) tentang delapan orang untuk kemungkinan perekrutan.

Melansir BBC, individu tersebut semuanya adalah warga negara AS yang dinaturalisasi yang berasal dari China atau Taiwan, dengan beberapa bekerja sebagai kontraktor pertahanan AS.

China juga diduga memiliki kemampuan melakukan kegiatan spionase ilegal di seluruh dunia, melalui microchip yang ditanam pada barang-barang elektrik dan elektronik buatan mereka yang di ekspor keluar negeri.

Kemampuan Beijing ini, dilansir oleh Asian Lite International dalam laporan hasil riset dan investigasi mereka beberapa waktu lalu, yang menyebutkan China menanam microchip di berbagai produk elektroniknya, antara lain komputer laptop, speaker pintar yang dikontrol suara, jam tangan pintar, lemari es, bola lampu.

Mekanisme transfer data dari berbagai perangkat elektrik maupun elektronik yang dilakukan Beijing, yakni dengan menancapkan microchip Internet of Things (IoT) seluler, untuk mengumpulkan data lalu mengirimkannya melalui jaringan 5G.

Asian Lite Internasional menyebut barang-barang elektrik hingga elektronik yang diekspor Beijing dan banyak beredar diseluruh dunia, tentunya menjadi ancaman nyata bagi keamanan negara, ekonomi, privasi dan HAM negara-negara yang mengimpor barang buatan China.

Menanggapi hal ini, Center for Indonesian Domestic and Foreign Policy Studies (Centris) mengingatkan pemerintah Indonesia dan pemimpin dunia lainnya untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap barang-barang buatan China yang membanjiri pasar dalam negeri masing-masing.

Peneliti senior Centris, AB Solissa mengimbau agar negara-negara dunia meningkatkan kemampuan teknologi dan produksi barang-barang elektrik atau elektronik agar tidak lagi bergantung dengan barang-barang China.

“Pertama, aksi spionase ilegal China seperti yang tertera dalam laporan Asia Lite Internasional, jelas mengancam kedaulatan suatu negara,” kata AB Solissa kepada wartawan, Kamis (2/2/2023).

Dikatakannya, para pemimpin dunia seyogianya melakukan protes kepada Beijing dan membawa permasalahan kegiatan mata-mata ilegal China ke pengadilan internasional.

“Ini artinya Beijing memiliki dan dapat mengakses serta terakses ke seluruh perangkat elektrik dan ekektronik ‘made in China’ yang juga digunakan oleh beberapa objek vital suatu negara seperti pusat pemerintahan hingga militer,” tutur AB Solissa.

Follow Berita Okezone di Google News

Sebelumnya kata dia, cara spionase ilegal China ini juga ditanggapi serius oleh Diplomat Inggris yang pernah bertugas di China, Hong Kong, dan Taiwan, Charles Parton, yang mengatakan para menteri di negaranya telah gagal mengambil tindakan serius dalam menangani IoT seluler Beijing yang ditanam dalam barang impor mereka.

Teknologi ‘Trojan horse’ menimbulkan ancaman luas terhadap keamanan nasional Inggris, menurut laporan yang dikirim ke pemerintah Inggris oleh Charles Parton.

Charles Parton kata dia meminta para menteri untuk mengambil tindakan segera untuk melarang IoT seluler buatan China dari barang yang dijual di Inggris sebelum terlambat.

IoT seluler yang merupakan singkatan dari Internet of Things, adalah modul kecil yang digunakan dalam barang-barang elektrik hingga elektronik, mulai dari lemari es pintar hingga sistem senjata canggih, untuk memantau penggunaan dan mengirim data kembali ke pemilik dan pabrikan yang memproduksi barang tersebut dengan menggunakan 5G.

1
2
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini