JAKARTA - Masa pendudukan Jepang di Indonesia menjadi salah satu masa yang paling berat untuk seluruh warga pada saat itu. Kewajiban yang diterapkan Jepang membuat sejumlah penduduk menderita.
Mereka dipaksa untuk memberikan bahan makanan kepada Jepang bahkan dipaksa menjadi romusha untuk membangun proyek-proyek.
BACA JUGA:
Mendengar hal tersebut Sultan Hamengku Buwono IX memikirkan beberapa strategi supaya rakyat Yogyakarta tidak merasakan penderitaan seperti itu.
Saat Jepang berhasil masuk ke Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono IX segera merundingkan dua strateginya kepada Jepang.
BACA JUGA:
Langkah pertama yang dilakukan Sultan Hamengku Buwono IX adalah segala hal yang menyangkut daerah Kesultanan Yogyakarta dibicarakan terlebih dahulu dengan Sultan.
Sementara langkah kedua yang diambil oleh dia adalah menyingkirkan kekuasaan pemerintahan sehari-hari yang masih ada di tangan Pepatih Dalem.
Kedua langkah tersebut diambil oleh Sultan karena ia tidak ingin Jepang memerintah langsung di daerah Yogyakarta. Dalam buku “Tahta Untuk Rakyat : Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX” dituliskan bahwa karena tanggapnya akan keadaan, Sultan Hamengku Buwono IX dilantik lagi untuk yang kedua kali menjadi Sultan Yogya.
Pelantikan ini dilakukan oleh Panglima Besar Tentara Pendudukan Jepang dan dilakukan di Jakarta.
Dengan langkah tersebut Sultan Hamengku Buwono IX bisa langsung menerima wewenang dari tentara Dai Nippon untuk mengurus pemerintahannya di kesultanan Yogyakarta.
Perintah dan petunjuk dari pemerintahan Jepang memberikan peluang untuk Sultang untuk lebih aktif memerintah secara langsung di Yogyakarta. Peluang ini juga memberikan kesempatan bagi dia untuk memecah wewenang yang semula ada di tangan Pepatih Dalem.
(Nanda Aria)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.