DALAM persiapan proklamasi kemerdekaan, Soekarno dan Hatta harus menghadapi perbedaan pendapat dari golongan muda. Achmad Subardjo sebagai penengah golongan muda dengan Soekarno-Hatta segera menghubungi anggota-anggota PPKI.
Subardjo berencana mengadakan sidang di rumah Laksamana Maeda. Kemudian Soekarno dan Hatta yang didampingi Maeda bertemu Somubucho (Kepala Pemerintahan Umum), Nishimura.
Dikutip dalam buku “Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Cinta Klasik” yang ditulis Adhe Riyanto, pertemuan berlangsung sangat tegang karena pihak Jepang bersikap tegas menjalankan syarat-syarat pernyataan kalah perang terhadap Sekutu.
Mulai pukul 13.00 keesokan harinya, mereka diwajibkan untuk menjaga “status quo” hingga menunggu kedatangan tentara Sekutu sehingga PPKI tidak dibenarkan untuk berkumpul mengadakan rapat, apalagi sampai menyelenggarakan proklamasi kemerdekaan.
Sejak saat itu, semua pihak tidak diperbolehkan melakukan kegiatan dalam bentuk apapun. Semuanya harus berjalan seperti sebelum tengah hari. Kondisi ini cukup sulit diterima para pemimpin Indonesia.
Sehingga, Hatta tidak dapat lagi menahan emosi ketika mendengar ucapan Nishimura. Ia marah dengan suara lantang dan mengingatkan Nishimura pada semangat samurai atau ksatria Jepang yang selama ini diajarkan kepada bangsa Indonesia.