Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Mencengangkan Petugas Evakuasi Korban Meninggal Kecelakaan di Jalur Lingkar Gentong

Ravie Wardani , Jurnalis-Selasa, 18 April 2023 |18:49 WIB
Cerita Mencengangkan Petugas Evakuasi Korban Meninggal Kecelakaan di Jalur Lingkar Gentong
Jalur Lingkar Gentong/Foto: MPI
A
A
A

TASIKMALAYA- Jalur Lingkar Gentong, di Tasikmalaya, Jawa Barat menyimpan banyak kisah saat musim mudik lebaran. Fenomena kemacetan parah hingga kecelakaan lalulintas (lakalantas) pun menjadi momok bagi para pemudik yang melintas di jalur tersebut.

Oleh karena itu, Pemerintah memaksimalkan perisapan mulai dari kualitas infrastruktur jalan hingga mendirikan posko khusus untuk calon pemudik.

Salah satu pihak yang terlibat dalam persiapan menjelang arus mudik di Jalur Lingkar Gentong ini adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

Sedikitnya, belasan petugas telah disiagakan sebelum puncak arus mudik yang diprediksi terjadi besok, Rabu (19/4/2023).

Kepada MNC Portal Indonesia, salah satu petugas PUPR, Enjang Saeful Mumin (44), tak sungkan berbagi cerita selama delapan tahun terakhir mengemban tugas kemanusiaan.

"Jalur Gentong merupakan jalur tengkorak ya, makanya kita mengimbau para pengguna jalan untuk berhati-hati, disini kan turunan sama tanjakannya curam banyak kecelakaan maut disini. Ya disarankan saat tanjakan untuk menghindari mobil-mobil besar," tutur pria asal Desa Cibahayu, Kadipaten, Tasikmalaya itu, Selasa (18/4/2023).

Melihat jenazah tak lazim karena kecelakaan, bagi Saeful sendiri merupakan rutinitas sehari-hari. Mengingat, Jalur Lingkar Gentong terkenal dengan daerah rawan lakalantas.

"Ya kalau menolong korban selamat kita langsung bawa pakai mobil dinas lapangan kita ke Puskesmas terdekat. Untuk yang meninggal juga kita nggak segan-segan untuk langsung menolong meskipun mohon maaf ya kondisinya hancur," ucapnya.

Sebagai manusia biasa, Saeful mengaku masih memiliki rasa takut saat mengevakuasi korban lakalantas. Namun, ia menyadari bahwa tugasnya sangat dibutuhkan oleh banyak orang khususnya korban kecelakaan di Jalur Gentong.

"Kalau rasa takut itu kan manusiawi kan meskipun kita udah terbiasa nolongin sampai yang hancur juga tetap aja," kata dia lagi.

Dari sekian banyak kejadian kecelakaan lalu lantas di Jalur Gentong, dia mengaku ada satu momen yang sangat membekas.

"Waktu itu saya pernah menolong (korban) yang dari bus itu, itu tangan (korbannya) itu sampai copot. Itu yang paling saya ingat terus, soalnya dia kan nangis, nggak pingsan," ujar Saeful.

Usut punya usut, korban wanita tersebut khawatir diceraikan suaminya setelah kehilangan satu tangan akibat kecelakaan. Mendengar hal tersebut, Saeful pun mencoba menghibur dan memotivasi korban agar terus optimis menjalani hidup.

"Sampai saya ngomong seperti ini, untuk menghibur dia ya bukan berarti dalam hal serius, 'Ya sudah teh, teteh nggak usah kecil hati, kalaupun diceraikan sama suaminya Insya Allah saya nikahi' sampai saya seperti itu," tutur Safeul dengan raut wajah sedih mengingat momen tersebut.

"Tapi Alhamdulillah sampai sekarang suaminya bisa menerima dia, kita juga sampai sekarang masih jadi saudara," sambungnya.

Di sisi lain, Saeful tampaknya tak bisa menampik kerinduan merayakan lebaran bersama keluarga.

Sebab, perannya bersama tim sangat krusial dalam mengawal arus mudik di Jalur Gentong setiap tahun.

"Ya kalau berat ya berat tapi ya kita lebih mementingkan kepentingan umum untuk melayani masyarakat pada hakikatnya kan kita digaji oleh masyarakat. Kita mau nggak mau harus menjalani kewajiban ini walaupun hari lebaran kita nggak bisa lebaran bersama keluarga," pungkasnya.

(Fahmi Firdaus )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement