Letak Tajuk berjarak sekitar beberapa ratus meter dari lokasi bertapa yang kini dikenal dengan sebutan Kembang Lampir (lokasi turunnya wahyu Mataram). Kini Kembang Lampir juga menjadi tempat petilasan yang sering dikunjungi untuk berziarah
Lambat laun, warga sekitar kemudian memanfaatkan Tajuk tersebut. Warga merawat peninggalan Sunan Kalijaga itu dari generasi ke generasi. Dan pada zaman penjajahan Belanda kubah atau mustaka Tajuk sempat hilang.
Hilangnya kubah Tajuk berbahan tanah liat tersebut diakibatkan oleh perbuatan orang-orang Belanda. Mustaka hilang tanpa diketahui keberadaannya usai Tajuk dibakar oleh penjajah.
Konon, ketika Belanda hendak menghakimi orang yang dianggap bersalah, setiap kali bersembunyi di dalam Tajuk selalu selamat. Melalui mata-mata Belanda, barulah diketahui bahwa tempat persembunyiannya berada di dalam Tajuk.
"Sehingga agar Tajuk tidak digunakan oleh warga untuk bersembunyi maka dibakarlah Tajuk tersebut," kenangnya
Saat hendak dibangun kembali, warga masyarakat tak lagi memiliki Kubah sebagai penutup atap. Warga kemudian berinisiatif membelinya di wilayah Klaten.
Kisah pembelian mustaka Masjid Kalijogo
Marjiyo melanjutkan, diskisahkan berangkatlah tiga tokoh warga hendak membeli Kubah baru. Di tengah perjalanan tiga warga bertemu seseorang yang membawa mustaka.
"Setelah niat membeli mustaka disampaikan, seseorang tersebut menawarkan mustaka yang dibawanya,” sambung Marjiyo.