Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ketika Masyarakat Jakarta Dilarang Sholat Idul Fitri, Malah Dihadiri Ribuan Jamaah

Arief Setyadi , Jurnalis-Sabtu, 22 April 2023 |08:03 WIB
Ketika Masyarakat Jakarta Dilarang Sholat Idul Fitri, Malah Dihadiri Ribuan Jamaah
Ilustrasi Sholat Idul Fitri (Foto: Dok Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Pada masa penjajahan Belanda, masyarakat Jakarta pernah dilarang untuk menunaikan Sholat Idul Fitri. Jakarta kala itu dikuasai Belanda sejak Agresi Militer I pada 1947 dan perjanjian Renville 17 Januari 1948.

Kawasan yang seharusnya menjadi titik Sholat Idul Fitri adalah pekarangan bekas rumah Soekarno di Pegangsaan Timur Nomor 56.

Menukil buku ‘Kronik Revolusi Indonesia: Jilid IV (1948)’ karya Pramoedya Ananta Toer dkk, Belanda menganjurkan agar masyarakat Sholat Idul Fitri di Lapangan Gambir. Anjuran tersebut diabaikan Panitia Sholat Idul Fitri 1367 H.

"Sebagai diketahui, Pegangsaan Timur 56 oleh rakyat Jakarta dianggap simbol Republik (Indonesia). Lapangan Gambir Simbol Kekuatan Asing,” tulis Pramoedya Ananta Toer dkk.

Belanda menyampaikan anjuran tersebut dua hari jelang Hari H, yakni 4 Agustus 1948. Kala itu, Pemerintah Belanda memang menentukan 1 Syawal 1367 H, bukan pada 6 Agustus, melainkan 7 Agustus.

Panitia sempat menemui Pokrol Jenderal (Jaksa Agung) pada 5 Agustus, yang awalnya juga keberatan soal Sholat Idul Fitri di Pegangsaan Timur 56. Namun, negosiasi tersebut menghasilkan perizinan dari Pokrol Jenderal dengan syarat, tidak lebih dihadiri 100 orang.

Menukil dari Kantor Berita Antara, panitia dan masyarakat tetap kukuh untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri pada 6 Agustus, sesuai ketentuan pemerintah republik di Yogyakarta. Mereka kembali mengabaikan Belanda.

Bahkan, syarat tidak lebih dihadiri 100 orang juga tak terealisasi. Puluhan ribu warga tetap menggelar Sholat Idul Fitri skala besar di pusat kota. Adapun yang menjadi titiknya di rumah bekas Bung Karno.

Melihat lautan manusia, Belanda tak sanggup membendungnya. Mereka hanya bisa memperketat pengamanan dengan menyiagakan tank dan jip Polisi Militer Belanda.

Sholat Idul Fitri pun berjalan kondusif dimulai pada pukul 09.15 -10.00 WIB. Bertindak sebagai Imam yakni Moh Ali al-Hamidi dan khatib menggantikan Moh Natsir yang batal jadi imam dan khatib.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement