PERJALANAN panjang harus ditempuh untuk membebaskan Irian Barat atau yang kini dikenal dengan Papua dari cengkeraman Belanda. Bertahun-tahun, upaya untuk memasukkan Papua sebagai bagian dari NKRI gagal dilakukan karena Belanda keukeuh menguasai Bumi Cenderawasih.
Baru pada akhirnya Papua menjadi bagian dari NKRI pada 1 Mei 1963. Irian Barat diserahkan kepada Indonesia, bendera merah putih pun berkibar di sana.
Sejarah panjang untuk mendapatkan Irian Barat bermula bermula ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dalam Perjanjian Pengakuan Kedaulatan pada Desember 1949, meski enggan melepaskan Papua. Belanda dalam perjanjian itu menyebut bahwa wilayah Irian Barat akan dibicarakan setahun setelah pengakuan kedaulatan.
BACA JUGA:
Setahun berlalu, pada 1950, Belanda masih menolak melepas Irian Barat. Alasannya wilayah ini merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam khususnya di bidang pertambangan.
Presiden Soekarno tidak tinggal diam melihat hal itu. Perjuangan diplomasi kemudian dilakukan khususnya setelah Indonesia mendapatkan dukungan dari negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955.
Di sisi lain, Belanda juga mulai mencari dukungan khususnya dari Amerika Serikat (AS) agar Irian Barat tetap berada di dalam kekuasaannya. Hingga pada 1960, tidak ada perkembangan positif dari Pemerintah Belanda. Di saat yang sama PBB yang telah berupaya menyelesaikan Irian Barat, belum membuahkan hasil.
BACA JUGA:
Alhasil, pada 1961 Presiden Soekarno memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda dan mulai mempersiapkan operasi militer untuk merebut Irian Barat. Saat itu, pemerintah menggaungkan Trikora (Tri Komando Rakyat) untuk membangkitkan semangat rakyat.
Pada 15 Januari 1962 sebuah pertempuran pecah di Laut Arafuru, Irian Barat, yang mana dalam pertempuran tersebut Pahlawan Nasional Komodor Yos Sudarso gugur. Kendati demikian, pemerintah berhasil menyusupkan beberapa tentara ke hutan belantara Irian Barat untuk melakukan serangan darat.
Dunia yang melihat kondisi tersebut cemas, Sekjen PBB U Thant menunjuk Duta Besar AS Elsworth Bunker untuk menjadi mediator Indonesia dengan Belanda.