Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pejuang Edi Somad, Dilempar ke Lantai dan Jidatnya Ditodongkan Senjata

Arief Setyadi , Jurnalis-Selasa, 16 Mei 2023 |05:04 WIB
Kisah Pejuang Edi Somad, Dilempar ke Lantai dan Jidatnya Ditodongkan Senjata
Edi Somad (Foto: Dok Okezone)
A
A
A

PEJUANG Edi B Somad merupakan prajurit Tentara Republik Indonesia (TRI), sekarang TNI. Ia sekelas bintara yang bertugas di Batalyon V Resimen Cikampek pada zaman revolusi kemerdekaan masa 1945-1949.

Edi merupakan pejuang yang lolos dari bedil Belanda. Dalam kisahnya, Edi menyamar sebagai pedagang jeruk yang bersiasat untuk merampas senjata tentara Belanda.

Selain bernyali, Edi juga memiliki kemampuan bahasa asing. Ia menguasai Bahasa Belanda dan Jepang. Suatu ketika, Edi dirinya sempat diinterogasi tentara Belanda.

"Medio 1947 itu, saya lupa bulannya, pernah dikirim ke Bogor untuk misi merampas senjata. Beberapa waktu setelah menyamar, saya sempat kena razia tentara Belanda di Bogor, pas lagi tidur di asrama yang disediakan seseorang yang namanya Pak Toha,” ujar Edi dalam sebuah kesempatan wawancara Tim Okezone beberapa waktu lalu.

Edi dibawa ke daerah bernama Cilendek, dekat Semplak, Bogor dengan menggunakan truk. Pria berusia 89 tahun itu tiga hari lamanya dia ditahan dan diinterogasi perwira Belanda.

Dalam ingatannya bernama Letnan Leo dan Hendrick, seorang pribumi yang ikut pasukan NICA (Nederlands Indie Civil Administratie).

“Ye ben extrimist? War Ye huis? Ditanya begitu pakai bahasa Belanda sama Letnan Leo itu yang artinya apa kamu ekstremis (pejuang)? Saya jawab pakai bahasa Belanda juga. ‘Nei meneer. Ik ben orange trader, meneer’ (Bukan tuan. Saya pedagang jeruk, tuan),” ujarnya.

“Naturlijk (benar)? Tanya dia. Naturlijk, meneer (Benar, tuan) saja jawab begitu. Besoknya, saya diiterogasi sama NICA kulit hitam namanya Hendrick. Saya disuruh mengaku sebagai ekstremis dengan cara yang lebih kasar. Kerah baju saja diangkat, ditodongin senjata jidat saya,” imbuhnya.

“Saya pasang (peluru di kepala) kamu ya! Gitu katanya. Saya tetap jawab tidak, saya bukan ekstremis. Habis itu saya dilempar ke lantai. Sementara itu ada orang lain yang juga ditahan tapi enggak bisa ngomong (bahasa) Belanda, dihantam popor (senapan) kepalanya. Disiksa segala macam,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement