TANGERANG - Puluhan ribu Pekerja Migran Indonesia (PMI) tercatat telah dideportasi dari sejumlah negara tempat mereka bekerja. 90 persen di antaranya adalah perempuan.
Demikian disampaikan oleh Sekretaris Umum Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Rinardi. Total ada sekitar 90 ribu PMI yang dideportasi karena bekerja secara ilegal
BACA JUGA:
"Itu adalah para pekerja yang berangkat udah dipastikan 99 persen berangkatnya adalah dulu ilegal. Mereka ini berasal umumnya dari daerah Jawa Barat ada dari Bandung, Karawang, Garut, Bandung dan Sukabumi dan Purwakarta," ujarnya di Shalter P4MI, Kota Tangerang, Selasa, (16/5/2023).
Dia menuturkan, negara favorit bagi para PMI ilegal ini adalah Arab Saudi. "Negara favorit bagi para pekerja non prosedural untuk berangkat itu umumnya adalah Arab Saudi pertama. Nah yang kedua negara yang favorit adalah Malaysia," katanya.
BACA JUGA:
Kata dia, bekerja di Arab Saudi dengan cara ilegal sangat mudah. Sebab, penyalur PMI ilegal ini dimudahkan dalam pengurusan dokumen izin ke negara tersebut.
"Cukup membutuhkan visa umrah, visa ziarah kalau sudah habis maka berlakunya visa ziarah tadi. Katakanlah 3 bulan overstay mereka enggak masalah kalau enggak ditemukan, kalau apesnya mereka tidak ditemukan, msreka tetap bisa bekerja," ungkapnya.
Sementara itu, Rinardi menjelaskan modus para penyalur yang digunakan untuk memberangkatkan PMI ilegal ke Malaysia berupa memanfaatkan jalur perbatasan.
Bahkan, pihak penyalur kerap memanfaatkan hal tersebut tanpa membekali para PMI ilegal dokumen visa atau paspor.
"Malaysia itu adalah negara yang paling banyak pintu pembatasannya dengan kita di Kalimantan, kemudian ada di Kalimantan Utara kemudian ada juga di Batam," kata Rinardi.
"Kunjungan ke sesama negara ASEAN yang 10 negara tadi tidak membutuhkan visa. Jadi kalau selama 3 bulan kita mau jalan-jalan ke Singapura kita enggak perlu pakai visa 30 hari kita enggak membutuhkan visa. Jadi itu dipakai oleh mereka untuk memberikan wisatawan. Nah setelah 30 hari mereka tidak pulang ya berarti tidak ada resiko itu buat siapapun kalau mereka menghilang," pungkasnya.
(Nanda Aria)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.