Panglima Besar Jenderal Soedirman menugaskannya membangun komando di seberang Pulau Jawa, Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) pada 24 Maret 1946. Kahar mengumpulkan para personelnya dari mantan anggota BKI berjumlah 1.200 orang.
Pasca-Perjanjian Linggarjati, TRIPS diubah menjadi Lasjkar Sulawesi dan Kahar tercatat membentuk satuan kecabangan Barisan Berani Mati (BBM) dari para pejuang Sulawesi di Madiun, Jawa Timur. Perannya terus dibutuhkan tentara revolusi yang kemudian sudah berubah nama menjadi TNI, untuk membangun satuan militer di Makassar pada periode 1946-1947.
Sayang, upayanya membentuk satuan-satuan gerilya dengan membina kader-kader muda, gagal akibat terjadinya kekacauan atas ulah aksi polisionil Kapten Raymond Westerling pimpinan Korps Speciale Troepen, pasukan elite Belanda.
Sebagaimana yang pernah dialami Andi Azis, prestasi gemilang Kahar harus tercoreng gerakan pemberontakan. Kahar memberontak lantaran tuntutan agar pasukan Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) pimpinannya masuk menjadi tentara namun tak mendapat restu Bung Karno.
Kahar akhirnya tewas pada 1965 ketika disergap pasukan Siliwangi di tepi Sungai Lasolo.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.