"Kemudian saya harus menguasai kota. Markas Brigade tetap di Bontain. Kemudian saya harus mengirimkan satu batalyon ke Makassar. Begitu perintah pertama," tuturnya.
Keesokan harinya Kolonel Kawilarang disertai Kolonel Gatot Soebroto yang Soeharto dampingi memeriksa Batalyon Kresno dan Batalyon Seno. Ternyata kedua batalyon itu yang paling dulu siap di antara semua yang akan dikirimkan.
Setelah selesai persiapan, pada tanggal 19 April 1950 barang-barang anggota Brigade Mataram yang ikut serta dalam ekspedisi sudah ada di atas kapal “Waiwerang”. Keesokan harinya, tanggal 20 April seluruh staf dan anggota brigade telah naik ke atas kapal “Waiwerang” itu, siap melaksanakan operasi.
Tanggal 21 April, pukul 18.00 sore berangkatlah kami menuju sasaran, dengan kode operasi “Macan” dan sasaran kami disebut “Kelapa”.
Pada tanggal 24 April, sedikit lewat setengah dua belas malam, dalam briefing di kapal korvet “Hang Tuah”, waktu berada di tempat rendezvous di pulau De Bril, Kolonel Kawilarang mengadakan perubahan rencana operasi.
"ltu disebabkan oleh karena Andi Azis sudah menyerah kepada Pemerintah di Jakarta dan Batalyon Worang telah berhasil mendarat di Jeneponto, serta kemudian menguasai Makassar. Maka lalu brigade kami mendarat langsung di Makassar," ujarnya.
Saya ditetapkan menjadi Komandan Sektor Makassar yang meliputi kota Makassar dan daerah pantai Jeneponto sampai Gunung Lompobattang, ke utara lurus sampai timur Pancana, membelok, ke barat hingga selatan Pancana. Kota Makassar ditetapkan berada di bawah Komando Militer Kota (KMK).
"Pasukan-pasukan saya mendarat dengan selamat pada tanggal 26 April 1950. Rakyat menyambut kedatangan kami dengan hangat. Patut saja begitu, karena sebelumnya mereka mendapat tekanan hebat dan mengalami tindakan kejam dari orang-orang KNIL/KL itu," kata dia.
Sementara itu Kolonel Kawilarang sudah diangkat menjadi Panglima T & T VII/Indonesia Timur menggantikan Letkol. A.J. Mokoginta. Pasukan-pasukan bekas KNIL dan KL itu masih saja tidak senang dengan kedatangan pasukan, sekalipun Andi Azis sudah menyerah. Maka terjadi beberapa insiden yang mengakibatkan korban jiwa.
(Qur'anul Hidayat)