Slamet Riyadi dilahirkan di Surakarta dan ia aktif bertempur melawan Belanda yang pada akhirnya gugur dalam penugasan di Ambon. Letkol Slamet Riyadi pula yang ikut menggagas pembentukan satu pasukan khusus yang ramping, mampu bergerak cepat, dan memiliki kemampuan di atas pasukan reguler.
Pada Januari 1978, markas Grup 2 Sandi Yudha di Tuguran secara bertahap dipindahkan ke Kartasura. Dalam rangka pemantapan satuan dan efektivitas penugasan, pada pertengahan 1978, di era kepemimpinan Danjen Kopassandha Brigjen TNI Yogi S.M., Grup 3 Para Komando yang berpangkalan di Kartasura dibubarkan.
Personelnya disebar dan dimasukkan ke Grup 1, Grup 2, dan Grup 4. Pangkalan Kartasura menjadi Grup 2 dan sekaligus menjadi Grup Sandi Yudha.
Dilihat dari luar, Markas Kopassus Grup 2 di Kandang Menjangan, Kartasura terlihat sama saja seperti asrama-asrama Kopassus yang rapi, bersih, dan berestetika tipikal TNI.
Sama sekali tidak terbayang bahwa ada sebuah bangunan bersejarah yang cukup kuno di dalamnya, yaitu pesanggrahan milik Keraton Kasunanan Surakarta.
Lokasi yang menjadi Markas Kopassus Grup 2 di Kartasura ini berada di atas lahan seluas 250 hektare yang dulunya merupakan lahan yang diberikan Sunan Amangkurat III (1703-1705) dari Kerajaan Mataram (berpusat di Keraton Kartasura) kepada Bupati Pasuruan Untung Surapati.
Wilayah yang diberikan kepada Untung Surapati ini berada di sebelah barat Keraton Kartasura dan dikenal sebagai Kampung Babirong. Kampung ini menjadi tempat bersembunyi dan berlatih perang bagi pengikut Untung Surapati yang berhasil meng-ambush pasukan VOC bersenjata lengkap di bawah Kapitan Francois Tack dan ratusan prajuritnya pada Februari 1686.