“Habis G30S, DN Aidit kan larinya ke Jateng. Sementara penumpasan ditangani langsung Kopkamtib. Segenap satuan militer daerah mendukung. Karena kalau tidak, dicap pro PKI. Pak Sarwo Edhie dengan RPKAD-nya, langsung diturunkan mengamankan Solo dan Yogya,” tambahnya.
“1 Oktober itu juga, dibentuk Komando Operasi Merapi. Operasi ini langsung di bawah Kolonel Sarwo Edhie. Mereka berhasil menumpas perwira (yang pro PKI), seperti Kolonel Sahirman, Maryono dan Kapten Sukarno. 30 Desember 1965, mereka baru ditarik lagi dari Jateng ke Jakarta,” terang Wahyu.
Sementara suasana di Jatim juga tak kalah mencekam dan tegang. Seperti yang terjadi di daerah Malang Selatan, Tumpang, Kediri, Mojokerto, Jombang, serta Surabaya.
“Sempat terjadi penangkapan besar-besaran para anggota PKI sampai Gerwaninya juga. Keadaan juga mencekam. Ada perintah dari pemerintah dan instansi militer, supaya rakyat serta ormas agama seperti GP Anshor di bawah NU, ikut gerakan menumpas PKI,” sambung penggiat sejarah 'Reenactor Ngalam', David Rosihan.
“Yang paling parah ada di daerah Kediri, Jombang dan Mojokerto yang basisnya NU. Sampai ada bentrok terbuka. Saling serang antara yang pro komunis dengan NU,” timpal Wahyu Bowo lagi.
Suasana teror juga terasa sampai ke Surabaya. Berbagai bentuk intimidasi bahkan sering diarahkan pada para santri oleh para simpatisan PKI, sebelum Surabaya ikut dibersihkan para pendukung ideologi haram itu.
“Suasana Surabaya sangat tegang, seperti halnya di kota-kota lain. Ada juga cerita PKI sempat meneror golongan santri dalam bentuk intimidasi coretan-coretan di dinding. Dulu di tiap kampung, ada gardu jaga. Biasanya coretan intimidatif itu juga ada di gardu jaga,” tutup aktivis sejarah 'Roode Brug Soerabaia', Ady Setiawan.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.