Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengapa Manusia Jawa Belum Bisa Pulang ke Indonesia dari Belanda?

Susi Susanti , Jurnalis-Jum'at, 28 Juli 2023 |09:49 WIB
Mengapa <i>Manusia Jawa</i> Belum Bisa Pulang ke Indonesia dari Belanda?
Tengkorak Manusia Jawa (Foto: EPA-EFE)
A
A
A

Ia mengatakan pihak Belanda memang belum memasukkan koleksi Dubois ke dalam daftar 472 artefak yang akan dikembalikan ke Indonesia. Sebab, mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk menyisir koleksi berisi ribuan objek bersejarah itu.

Sehingga, pemerintah Belanda belum bisa memberikan kepastian kapan keputusan terkait apakah Indonesia dapat menerima Manusia Jawa dan artefak hasil ekskavakasi Dubois lainnya.

“Proses ini dilakukan dengan konsultasi yang baik antara Belanda dan panitia repatriasi Indonesia, dan Museum Naturalis. Komite repatriasi indonesia terlibat erat dalam proses ini juga, dan sepengetahuan saya para ahli Indonesia terlibat,” jelas Jaef.

Ia mengatakan bahwa pemindahan kepemilikan resmi kepada Indonesia dilaksanakan pada Senin (10/7). Kemudian Museum Nasional Kebudayaan Dunia Belanda dan Museum Nasional Indonesia akan melakukan pengaturan pengiriman benda-benda tersebut.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid membenarkan hal tersebut.

Pada Senin (10/7) pagi, ia terbang bersama timnya ke Amsterdam untuk menandatangani dokumen Pengaturan Teknis dan Pengakuan Pengalihan Hak dari Kerajaan Belanda ke Republik Indonesia.

“Jadi sudah disepakati ada 472 obyek yang akan dikembalikan dan sekarang kita bicara hal-hal yang berhubungan dengan teknikal dan logistik,” kata Hilmar kepada BBC News Indonesia lewat sambungan telepon setelah ia mendarat di Belanda.

Hilmar mengatakan bahwa pemerintah Indonesia sudah lama mengajukan permintaan agar Manusia Jawa dikembalikan ke negeri asalnya. Meski begitu, ia memahami jika pihak Belanda memerlukan waktu lebih lama.

Bahkan, sambungnya, ada beberapa artefak bersejarah ikonik lain yang disimpan di Belanda selain Manusia Jawa yang masih belum disetujui untuk kembali ke Indonesia.

“Daftar kita cukup panjang. Kita punya permintaan Quran yang dibawa Teuku Umar ketika ditangkap, itu juga kita request, sedang dipelajari. Jadi saya juga menyadari ini mesti bertahap, karena provenance research memang tidak mudah,” ujar Hilmar.

Berdasarkan kesepakatan antara Indonesia dan Belanda, barang-barang yang diambil secara paksa lewat penjarahan atau rampasan akan dikembalikan ke Indonesia tanpa syarat. Tetapi, itu bukan berarti objek-objek dapat dikembalikan.

Hilmar mengatakan Manusia Jawa masuk dalam kategori benda bersejarah yang memiliki arti penting secara historis. Sehinnga, pemerintah Indonesia menganggapnya sebagai prioritas dalam proses repatriasi.

“Kami ingin memperlihatkan kontribusi dari Indonesia sendiri terhadap perkembangan pengetahuan mengenai manusia di dalam sejarah, dan itu menjadi satu alasan mengapa Java Man perlu ada di Indonesia,” katanya.

Dr. Sri Margana, sejarawan dari Universitas Gadjah Mada sekaligus Anggota Komite Repatriasi, mengatakan bahwa Manusia Jawa merupakan hasil dari ekskavasi ilmiah di Pulau Jawa yang kemudian dibawa ke Belanda.

Saat itu, memang Indonesia merupakan wilayah yang berada di bawah kekuasaan Belanda.

“Penguasa kolonial adalah Belanda, kalau mereka sudah melakukan izin atau diberi izin oleh pemerintah yang berkuasa pada masa itu, tidak bisa dibilang sebagai sesuatu yang ilegal,” ungkapnya.

Namun, menurut Sri, Manusia Jawa merupakan hak milik bangsa Indonesia karena merupakan nenek moyang masyarakat.

“Itu tidak biadab, ada tengkorak dari Indonesia yang dipancung oleh pemerintah Belanda. Sekarang tengkoraknya disimpan di Belanda,” kata Sri kepada BBC News Indonesia.

Menurut Sri, pemerintah Belanda masih enggan melepas Manusia Jawa karena nilai sejarah tinggi yang dimilikinya.

“[Itu satu-satunya] artefak yang tertua yang pernah ada, dan ditemukan di Jawa, itu bukti ilmiah yang sangat penting. Jika sebuah lembaga memiliki koleksi sepenting itu, itu bisa dikatakan sebagai lembaga yang hebat,” terangnhya.

“Jadi kalau itu dikembalikan ke Indonesia, otomatis legitimasi lembaga itu akan berkurang,” ujarnya.

Sebab, penemuan itu tidak hanya signifikan bagi Indonesia atau Belanda semata, tetapi bagi seluruh dunia.

“Itu tidak hanya penting bagi Indonesia, karena itu warisan dunia, warisan prasejarah yang tertua yang menjadi bukti penting bagi munculnya peradaban manusia di bumi ini,” katanya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement