Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Perangi Belanda, Pejabat Keraton Yogya Gugur di Tepi Sungai Bengawan Solo

Avirista Midaada , Jurnalis-Jum'at, 04 Agustus 2023 |06:51 WIB
Perangi Belanda, Pejabat Keraton Yogya Gugur di Tepi Sungai Bengawan Solo
Ilustrasi (Foto : Wikipedia)
A
A
A

RADEN Ronggo Prawirodirjo III Bupati Madiun yang merangkap sebagai Bupati Wedana Mancanagera Timur Kesultanan Yogyakarta meninggal di tepi Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Bojonegoro, saat berperang melawan pasukan keraton dibantu pasukan kolonial. Ia dianggap sebagai pengkhianat oleh Sultan Hamengkubuwono II dan diburu setelah meninggalkan Yogyakarta.

Raden Ronggo Prawirodirjo III memilih berjuang meninggalkan Yogyakarta untuk berperang melawan Belanda, yang kala itu dibawah pimpinan Gubernur Daendels. Guna mengejar Raden Ronggo ini Sultan Hamengkubuwono II memerintahkan secara khusus Raden Tumenggung Purwodipuro dibantu pasukan kolonial kelahiran Batavia Sersan Lucas Leberveld.

Dia mencoba menarik dukungan ke para bupati di wilayah Mancanagera Timur. Dari sekian bupati di bawah kekuasaannya, hanya Mas Tumenggung Sumonegoro Bupati Padangan yang kini masuk Kabupaten Bojonegoro, yang sepenuh hati mendukung perlawanan Raden Ronggo.

Suatu ketika sebagaimana dikisahkan pada "Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta : Riwayat Raden Ronggo Prawirodirjo III dari Madiun sekitar 1779 - 1810, Raden Ronggo bersama 250 orang pengiring, termasuk 12 orang Tionghoa, berangkat dari kediamannya di Maospati menuju Kertosono pada 2 Desember 1810.

Sang bupati wedana dan pasukannya bertemu dengan pasukan Leberveld yang terdiri dari 150 orang di tepi Sungai Bengawan Solo tepatnya di Sekaran, yang kini konon masuk wilayah Bojonegoro tepatnya di Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, pada malam 16-17 Desember 1810.

Keesokan hari (17 Desember) pada pagi buta, sebagian besar tentara Ronggo menyelinap masuk ke hutan sekitar, hanya meninggalkan deputi Sumonegoro dan patih Mas Ngabehi Puspodiwiryo serta pembawa panji-panji dan payung di tempat pertempuran.

Bupati Wirosari Raden Tumenggung Yudokusumo, yang menyertai pasukan Leberveld, menanyakan kepada Raden Ronggo apa yang dia kehendaki setelah tembak-menembak terjadi antara Raden Ronggo, dan pasukannya melawan pasukan Leberveld.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement