Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Haru! Ibu Mahasiswa UI yang Jadi Korban Pembunuhan Senior Kenang Pertemuan Terakhir dengan Anaknya

Yayan Nugroho , Jurnalis-Senin, 07 Agustus 2023 |16:21 WIB
Haru! Ibu Mahasiswa UI yang Jadi Korban Pembunuhan Senior Kenang Pertemuan Terakhir dengan Anaknya
Ibu Muhammad Nauval Zidan kenang anaknya/Foto: Yayan Nugroho
A
A
A

LUMAJANG - Kehilangan anak kesayangan secara tragis tentu membuat hati seorang ibu hancur. Seperti yang dirasakan Elfira Rustina, ibu dari Muhammad Naufal Zidan, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang menjadi korban pembunuhan oleh kakak tingkatnya.

Kepada MPI, Elfira menceritakan firasat dan detik-detik terakhir saat ia bertemu dengan anak kesayangannya itu.

 BACA JUGA:

Sebagaimana diketahui, Muhammad Naufal Zidan harus pergi dengan tragis, usai dihabisi oleh seniornya di kampus. Kepergian Zidan menjadi luka mendalam bagi keluarga.

Dari sejumlah keluarga Zidan, ibu kandungnya Elfira Rustina yang paling terpukul atas peristiwa yang merenggut nyawa buah kasihnya itu.

Elfira bahkan tak kuasa menahan tangis saat baru tiba di kampung halamannya di Kelurahan Tompokersan, Lumajang, Jawa Timur, untuk mengantarkan jenazah anak laki-lakinya untuk yang terakhir kali.

 BACA JUGA:

Dengan menahan kesedihan, Elfira Rustina berkisah saat-saat terakhir ia bersama mendiang Zidan untuk terakhir kali, sebelum ditemukan tewas.

Pengalaman yang membuat saua gantar, dia tidak pernah mau diajak foto. Jadi momen apa saja kalau diajak foto itu sulit. Kalau dia enggak mood enggak mau. (Tapi) waktu itu di bandara 'Mama enggak kepengen foto sama saya?' Itu yang membuat saya ini (sedih)," katanya berkisah tentang pertemuan terakhir dengan anaknya, Senin (7/8/2023).

Tak hanya itu, kala mengantarkan anaknya berangkat kembali ke Jakarta, ia merasakan ada momen yang tak bisa dilupakan Elfira. Pasalnya, ketika hendak masuk ke bandara untuk terbang ke Jakarta, Zidan terlihat berat untuk melangkah.

Padahal, biasanya, ketika sudah masuk ke bandara, Zidan akan dengan enteng melangkah sembari memunggungi kedua orangtuanya yang mengantar di belakang. Namun, kali itu berbeda, Zidan kerap menolah ke belakang seakan enggan meninggalkan kedua orangtuanya.

"Tapi waktu itu enggak, tetap seakan-akan memperlihatkan noleh terus ke belakang. Yang rasa bapaknya, 'Nanti dulu nunggu Zidan', tapi Zidan itu sampai jauh terus memandang kami. Itu yang tidak kami sadari kalau itu adalah sesuatu yang terakhir bagi saya," tambahnya.

Sementara itu, kali terakhir ia berkomunikasi dengan anknya adalah pada tanggal 1 Agustus. Kala itu, ia melakukan video call dengan Zidan. Saat itu Zidan meminta maaf kepada ibunya.

 BACA JUGA:

"Dan terakhir malam tanggal 1 saya telepon enggak diangkat dia ketiduran dan dia nelpon saya. Itu adalah terakhir kali saya ketemu wajah anak saya. Jadi dia ketiduran, dia nelepon saya, minta maaf karena ditelepon saya tidak diangkat. Itu yang membuat saya sampai sekarang (sulit percaya)," ujar Elfira.

Atas peristiwa itu, Elfira pun kini telah kehilangan anak terkasihnya. Ia pun hanya bisa berharap keadilan ditegakkan. Ia meminta agar hukum Islam diberlakukan untuk kasus anaknya.

"Kalau hukum Indonesia, pelaku dihukum satu-dua tahun, atau maksimal 20 tahun penjara, tapi ibunya masih bisa melihat anaknya. Kalau hukum Islam kita sama-sama merasakan kita tidak punya anak sama sekali. Saya mengharapkan hukum Islam diterapkan untuk anak saya. Anak saya tidak salah apa-apa dan bukan musuh, kenapa harus dibunuh," tegasnya.

(Nanda Aria)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement