Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Apa Hubungan Ramalan Jayabaya dengan APRA?

Diana Aslamiyyah , Jurnalis-Selasa, 22 Agustus 2023 |17:25 WIB
Apa Hubungan Ramalan Jayabaya dengan APRA?
Apa Hubungan Ramalan Jayabaya dengan APRA/Tangkapan layar media sosial
A
A
A

JAKARTA- Prabu Jayabaya merupakan salah satu penguasa Kerajaan Kediri yang memerintah sejak tahun 1135 hingga 1159. Ia memiliki gelar Sri Maharaja Sri Wameswara Madhusadana Parakrama Digjoyottunggadewama Jayabhalancana. Prabu Jayabaya dikenal sebagai sosok pemimpin yang adil dan visioner.

Dilansir beragam sumber, Selasa (22/8/2023). Prabu Jayaba mendapat sebutan Ratu Adil dan Satria Piningit karena telah berjasa membawa kerajaan Kediri menuju masa kejayaan serta menyatukan kembali kerajaan yang sebelumnya sempat terpecah.

Selain itu, hingga saat ini sosok Prabu Jayabaya juga dikenal sebagai seorang peramal klasik yang disebut-sebut mampu meramalkan tanah Jawa hingga hari kiamat. Ramalan Jayabaya atau Jangka Jayabaya ini sebetulnya banyak diragukan keasliannya.

Tetapi pada kitab Musasar yang menjadi asal-usul dari serat ramalan ini, di bait pertamanya tertulis bahwa Prabu Jayabaya lah yang telah membuat ramalan-ramalan tersebut.

Meskipun begitu ramalan-ramalan ini begitu dipercaya oleh sebagian masyarakat terkhusus masyarakat Jawa. Mereka mempercayai bahwa ramalan-ramalan ini sudah ada yang terjadi dan sebagian lainnya masih akan terbukti di kemudian hari.

Salah satu ramalan Jayabaya ini bahkan menjadi pendorong terbentuknya APRA, kelompok yang memberontak pada 23 Januari 1949 di Bandung. Dalam ramalannya itu Jayabaya mengatakan bahwa akan datang seorang Ratu Adil yang membawa suasana damai serta memerintah dengan adil dan bijaksana.

Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pertama kali muncul pada tahun 1950. Gerakan ini merupakan milisi dan tentara swasta pro Belanda yang dipimpin oleh seorang mantan kapten KNIL, yakni Raymond Westerling.

Peristiwa pemberontakan ini dilatarbelakangi oleh dibubarkannya negara bagian bentukan Belanda yang akan kembali bergabung dengan Republik Indonesia.

Mereka tidak menyetujui pembubaran yang merupakan hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) itu. Mereka tetap ingin mempertahankan bentuk negara federal di Indonesia.

APRA awalnya memberi ultimatum kepada pemerintah RIS untuk menghargai negara-negara bagian dan mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Namun tuntutannya itu ditolak, wakil presiden Mohamad Hatta mengeluarkan perintah penangkapan Westerling untuk mencegah terjadinya agresi.

Maka dengan membawa 800 personil, APRA datang menyerbu Bandung. Dalam peristiwa ini mereka menyerang dan membantai para anggota TNI.

Pemerintah kemudian mengirimkan pasukan untuk membantu di Bandung serta melakukan perundingan. Berdasarkan perundingan tersebut, APRA didesak untuk segera menjauh dari wilayah Bandung.

Westerling yang reputasinya terancam karena gagal melakukan kudeta kemudian melarikan diri ke Belanda. APRA juga sempat ingin melanjutkan pemberontakannya di Jakarta, tetapi dapat digagalkan oleh APRIS.

(Fahmi Firdaus )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement