Subagyo lahir pada 12 Juni 1946 di Desa Piyungan, Kabupaten Bantul atau sekitar 15 kilometer arah timur Yogyakarta. Dia anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan Yakub Hadiswoyo dan Sukiyah.
Saat lahir, namanya hanya Subagyo (tanpa embel-embel Hadisiswoyo). Su berarti lebih, bagyo diartikan bahagia. Untuk ukuran masyarakat desa pada masanya, kondisi ekonomi keluarga Hadisiswoyo tergolong biasa-biasa saja.
Rumah Hadisiswoyo berdinding gedek (anyaman bamboo) dengan lantai tanah. Untuk membantu ekonomi keluarga, Sukiyah berjualan di pasar. Yakub dikenal sebagai juru penerang yang bekerja pada Djawatan Penerangan.
Bagyo Tak Patah Arang
Ledekan dan cemooh yang diterimanya membuat Bagyo tersinggung. Maklum, semula Bagyo berharap mereka akan mendukung dan memberikan doa.
Peristiwa yang dialaminya itu menjadi titik balik bagi Bagyo dan bertekad mewujudkan keinginan itu. Perjalanan waktu membuktikan semuanya. Tiga windu mengabdi di militer, memasuki bulan kelima (Mei) 1994 Kolonel Inf Subagyo mendapatkan promosi kenaikan pangkat. Bagyo yang merupakan Lulusan Akabri 1970 itu tembus bintang satu alias brigadir jenderal (brigjen).
Bagyo sekaligus tercatat sebagai lulusan pertama lichting 70 yang pecah bintang. Kariernya semakin bersinar. Pada akhir Agustus 1994, ABRI kembali melakukan mutasi besar-besaran.
Dalam mutasi kali ini, Bagyo yang menjabat sebagai Kepala Dinas Pengamanan dan Sandi Angkatan Darat (Kadispamad) tak disangka ditunjuk sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Hal tersebut mengejutkan banyak pihak, karena namanya jauh dari bursa calon Danjen.
Bagyo sendiri juga tak menyangka bakal menjadi pemegang tongkat komando pasukan elite itu.
“Sewaktu masih kolonel dan menjadi Komandan Grup A Paswalpres (kini Paspampres), Subagyo mendukung Asisten Operasi Kopassus saat itu, Luhut Binsar Pandjaitan, untuk menjadi Danjen Kopassus,” kata Carmelita.