JAKARTA - Puncak penyebaran kabar bohong atau hoaks diprediksi akan terjadi pada Februari 2024. Bulan itu diketahui, jadwal pemungutan suara Calon Legislatif (Caleg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) yakni pada Rabu, (14/9/2023).
Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI, Herwyn JH Malonda mengatakan hal itu bercermin pada Pemilu 2019. Di mana, puncak Hoaks terjadi pada April, menjelang pemungutan suara
“Ini yang memang kita perlu perhatikan bersama, karena terkait isu informasi negatif maka tren hoaks dan berita tidak benar ini bisa meningkat. Kalau berkaca 2019, memuncak di April 2019 ketika berakhirnya tahapan kampanye sampai menjelang pemungutan suara," kata dia dalam keterangannya, Minggu, (3/9/2023).
Lanjut, Herwyn, Hoaks akan mulai mengalami peningkatan pada November 2023 hingga Februari 2024. Berdasarkan data Pemilu 2019 sebanyak 501 hoaks menyebar.
Hal ini pun, kata Herwyn perlu diantisipasi karena dapat berdampak pada Pemilu yang meliputi muncul dan menguatnya polarisasi di tengah masyarakat munculnya ketidakpercayaan pada penyelenggara Pemilu. Kemudian masyarakat menjadi tidak percaya pada hasil Pemilu yang berakhir pada kekerasan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut Herwyn menjelaskan bahwa Bawaslu telah melakukan pencegahan dengan melakukan media monitoring sekaligus mempublikasikan informasi dan edukasi kepemiluan secara massif agar maraknya informasi hoaks dapat diredam dengan berita kebenaran.
“Kami juga melakukan kolaborasi kepada stakeholder terkait seperti Kemenkominfo, platform media sosial, media, dan konten kreator, dan juga membentuk gugus tugas pengawasan kampanye bersama KPI, KPU, dan Dewan Pers,” cetusnya.