Wahid, kini, sudah aktif lagi. Selain jasa ojek, dia sekarang mengerjakan instalasi listrik, juga bisa mengurus halaman. Lewat program pemberdayaan yang diadakan di kelurahan, istrinya belajar mengelola catering kecil-kecilan. Paling tidak, sekarang keluarga kecilnya punya sumber pemasukan lain.
“Sebelum antar dagangan istri, saya yang telepon satu per satu ibu-ibu perumahan. Saya tanya, ada kerjaan nggak? Biasanya sih ada. Misalnya disuruh belanja ke pasar atau jemput anak sekolah, naik motor. Ya saya mau juga. Lumayan dapat Rp25 ribu,” tuturnya sambil tertawa.
Sementara Aroon, seiring pulihnya pariwisata Thailand, juga kembali sibuk dengan kelas masaknya. Kini, kelas berlangsung maksimal dua kali, tiap kelas melayani empat turis. Dari pinjaman pemerintah berbunga rendah, ia merenovasi teras rumahnya menjadi lokasi kelas memasak. Saat ini, ada empat kompor dan empat meja persiapan, juga ada ruang makan tempat para peserta kelas memasak menikmati hasil olahan sendiri.
Mereka, seperti juga warga Asia Tenggara yang lain, kini telah kembali menjalani hidup seperti sebelum pandemi. Namun, lebih jauh, mereka menggantungkan asa pada para pemimpin ASEAN. Mereka tentu ingin penghidupan yang lebih baik. Berbagai kebijakan yang nantinya lahir dari konferensi KTT ke-43 ASEAN harus selekasnya direalisasikan agar segera menyentuh kepentingan masyarakat seperti mereka.
Meski masa depan belum pasti, ada satu hal yang tetap dapat kita upayakan bersama yaitu stabilitas, perdamaian, dan kemakmuran kawasan
(Fitria Dwi Astuti )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.