Secara simbolis, dia mengibaratkan unjuk rasa mahasiswa yang dulu dihadang dihadan aparat TNI dengan senjata lengkapnya. "Sekarang orang bebas demo tanpa dihadang TNI."
Atmosfir kebebasan itulah yang membedakan dengan masa-masa ketika Suharto masih berkuasa. "Sekarang kita berdiskusi, mengkritik dan bahkan memaki-maki presiden di sosial media. Dulu memaki Pak Harto, bisa masuk penjara dan bahkan bisa 'dihilangkan'."
Tentu saja, Savic juga mengaku memendam rasa kecewa setelah dua puluh tahun reformasi. Dia dan teman-temannya dulu memimpikan setelah Suharto turun dari kursi presiden, itu bisa menjadi gerbang "tegaknya masyarakat yang adil, makmur dan beradab."
"Ini yang belum terwujud," kata Savic dengan intonasi pelan. Tetapi, sambungnya cepat-cepat, Indonesia sata ini jauh lebih beradab jika dibandingkan jaman Orba.
"Karena ada koridor hukum yang membatasi aparat negara. Kita juga lebih adil dibanding Orba. Karena di jaman itu, kalau ambil tanah, diambil saja dan rakyat diusir begitu saja."
"Sekarang, kalau ada pembebasan lahan, warga bisa negosiasi," tandasnya. Meskipun dia mengakui bahwa hukum belum bisa menjangkau para pihak yang memiliki kekuasaan lebih.
Savic juga mengakui saat ini ada masalah yang disebutnya "agak menganggu" adalah muncul dan menguatnya kelompok intoleran terhadap kelompok-kelompok minoritas.
"Yang ini di jaman Orba tidak terjadi, karena negaranya sangat kuat dan otoriter. Ngomong SARA sedikit ditangkap. Sekarang orang SARA di mana-mana."
Melihat kondisi seperti itu, pria yang memiliki latar organisasi Nahdlatul Ulama (NU) memilih tidak berpangku tangan. Bersama rekan-rekannya, dia terus mengkampanyekan nilai-nilai Islam moderat untuk menangkis penyebaran nilai-nilai anti toleran dan kekerasan.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.