Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Akhir Pemberontakan Kahar Muzakkar, Tewas Diterjang Peluru Kala Subuh Idul Fitri

Erfan Maaruf , Jurnalis-Jum'at, 15 September 2023 |06:04 WIB
Akhir Pemberontakan Kahar Muzakkar, Tewas Diterjang Peluru Kala Subuh Idul Fitri
Kahar Muzakkar. (Foto: Tangkapan layar Youtube)
A
A
A

HARI itu pengujung bulan Ramadan, 2 Februari 1965. Empat kompi pasukan Batalyon Infanteri 330/Para Kujang I Kodam Siliwangi yang diterjunkan dalam Operasi Kilat mengepung hutan dengan Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara. Di tempat itu pentolan pemberontak paling dicari negara, Abdul Kahar Muzakkar terdeteksi.

Yonif 330/ Para Kujang I bertugas di bawah pimpinan Mayor Yogie S Memet, membantu Kodam Hasanuddin yang dikomando Kolonel M Jusuf yang kelak menjadi Panglima ABRI dan Yogie Danjen Kopassus. Pengepungan Kahar dipimpin Kolonel Solichin GP.

Dalam Operasi Kilat ini, turut dilibatkan pula Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Kehadiran pasukan elite Baret Merah ini diharapkan bisa menutup akses kabur bagi Kahar dan kelompoknya. semua pasukan telah memenuhi semua sisi gunung tempat persembunyian pemimpin pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Sulawesi Selatan tersebut.

 BACA JUGA:

“Tepat pukul 04.00 subuh, satu peleton pasukan Kujang I mulai bergerak melakukan penyusupan senyap hingga jarak sangat dekat tanpa diketahui lawan,” kata Iwan Santosa dan EA Negara dalam buku ‘Kopassus untuk Indonesia: Profesionalisme Prajurit Kopassus’ (halaman 156).

Perburuan Kahar Muzakkar melalui jalan berliku. La Domeng, panggilan masa kecil Kahar, menempuh jalan pemberontakan sejak 1952 dengan bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) bentukan SM Kartosoewirjo.

Pada 7 Agustus 1953, Kahar memproklamirkan Sulawesi Selatan menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia (NII). Dia sekaligus diangkat menjadi Panglima Divisi IV TII.

Sebulan sebelumnya atau pada Januari 1965, seorang perwira kepercayaan Kahar, yakni Letkol TII Kadir Junus menyerah kepada TNI. Dia lantas membocorkan tempat persembunyian Kahar, yakni di sekitar Sungai Lasolo. Tetapi menurut M Jusuf, kepastian lokasi La Domeng didapat pada 22 Januari 1965.

“Suatu tim RPKAD menyergap sekelompok orang di sekitar Lawate. Di antara dokumen-dokumen yang disita terdapat surat-surat yang masih baru, yang ditulis oleh Kahar Muzakkar ditujukan kepada Mansjur,” tutur Atmaji Sumarkidjo dalam ‘Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit’.

BACA JUGA:

Sakit Hati Akan Penolakan Soekarno, Kahar Muzakkar Kobarkan Pemberontakan 

Informasi ini selanjutnya diteruskan ke Yogie S Memet, kemudian diteruskan ke lapangan. Hari itu, 2 Februari 1965, pasukan Kujang I yang menyisir hutan mendapati seseorang membawa senjata naik rakit di Sungai Lasolo yang sedang banjir.

Peltu Umar, pemimpin Peleton I/Kompi D memerintahkan anak buahnya untuk tidak bergerak. Mereka mengamati pergerakan itu. Rakit ternyata menuju ke sebuah perkemahan yang terdiri atas sejumlah bivak berjajar di tepi sungai.

Di sana tim Peltu Umar melihat lebih banyak lagi orang mandi. Sayup-sayup terdengar lagi dari suara radio transistor. “Lagu yang keluar adalah Kenang-kenangan. Menurut penunjuk jalan, ini lagu kesayangan Kahar,” tulis Atmaji.

Baru pada dini hari 3 Februari Umar memerintahkan pasukannya mengepung perkemahan. Empat prajurit ditinggal di seberang sungai untuk mencegah lawan yang sekiranya nanti melarikan diri.

Pasukan Para Kujang ini mengepung seraya menunggu terang. Pukul 04.00, beberapa orang keluar bivak dan berjalan menuju sungai. Khawatir mereka melakukan sesuatu, empat prajurit TNI di seberang sungai menghujani tembakan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement