Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Anak Berkebutuhan Khusus dan Difabel di Klaten Kini Tak Lagi Merasa Terabaikan

Wahab Firmansah , Jurnalis-Minggu, 24 September 2023 |14:02 WIB
Anak Berkebutuhan Khusus dan Difabel di Klaten Kini Tak Lagi Merasa Terabaikan
ABK dan Difabel di Klaten/ist
A
A
A

KLATEN - Anak berkebutuhan khusus (ABK) dan difabel di Kecamatan Karanganom, Klaten, Jawa Tengah saat ini sudah tidak lagi menjadi beban bagi keluarganya. Hal ini setelah adanya pengembangan program inklusi sosial.

Mereka memiliki harapan baru untuk bisa mandiri bahkan berprestasi seperti impian masyarakat pada umumnya. Hingga saat ini sudah ada 70 anak difabel dan ABK yang didampingi dan dibina di Inklusi Center Kecamatan Karanganom - Bhakti Negeri (ICKK-BN).

“Mereka tidak hanya berasal dari Kecamatan Karanganom saja, tapi tersebar di Kecamatan Ngawen, Ceper, Tulung, bahkan ada dari luar yaitu Kecamatan Musuk dan Mojosongo dari Kabupaten Boyolali,” ujar Ketua ICKK-BN, Sri Mulyo, Minggu (24/9/2023).

Dikatakannya, berbagai pelayanan yang diberikan kepada para difabel dan ABK ini berupa terapi, sanggar belajar dan bermain hingga pembinaan beberapa jenis cabang olahraga. Di antaranya seperti tenis meja, panahan atletik dan lainnya.

“Setelah 2-3 bulan, yang awalnya di rumah saja, tapi setelah diberikan pendampingan, baik anak dan orang tuanya sangat merasakan adanya adanya perubahan perilaku yang membuat para ABK ini termotivasi untuk semangat lagi. Begitu juga yang terapi, anak yang tadinya belum bisa jalan setelah mengikuti terapi jadi termotivasi untuk semangat jalan,” tuturnya.

Untuk melakukan pendampingan kepada para difabel dan ABK ini, pihaknya dibantu oleh 15 relawan yang terdiri dari dua orang fisioterapis, satu terapis wicara, lainnya relawan untuk sanggar belajar dan bermain.

“Kita juga pernah memberikan terapi kepada seorang anak yang belum bisa bicara di usianya yang sudah lima tahun dan sekarang anaknya mulai senang dan ada semangat untuk bisa bicara,” terangnya.

Pihaknya juga merangsang anak-anak difabel usia sekolah berusia 15-16 tahun dan mendorongnya untuk menjadi atlet difabel. Dia mencontohkan seorang anak remaja difabel bernama Sasa yang mengalami cacat fisik tangan tangan sejak lahir dari Desa Troso, Kecamatan Karanganom.

“Awalnya Sasa hanya berdiam diri di rumah saja sepulang sekolah. Tapi, saya memberi motivasi kepadanya agar mau ikut berolahraga dan mau ikut lomba di kejuaraan pelajar se-Jateng pada tahun 2021 lalu dan dia pun mengikutinya,” tutur Sri Mulyo.

Tidak sampai di situ, pada tahun 2022, Sasa sangat bersemangat untuk mengikuti lagi kejuaraan olahraga tingkat provinsi (Kejurprov). Dan pada 9-13 September mendatang, dia juga tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) mewakili Kabupaten Klaten.

Difabel lainnya yang mengalami cacat yang sama seperti Sasa adalah Widi dari Prambanan. Dia juga termotivasi untuk mengikuti perlombaan-perlombaan olahraga. Penyandang disabilitas fisik dengan perawakan tubuh pendek, Muhamad Raffi Purnomo dari Desa Sidowayah Kecamatan Polanharjo juga termotivasi untuk mengikuti terapi air dan diajari renang selama 1,5 tahun.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement