Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

7 Strategi Ganjar Mempersiapkan Indonesia Emas 2045 dan Faktor Penghalang yang Bisa Menghambatnya

Royandi Hutasoit , Jurnalis-Minggu, 15 Oktober 2023 |14:52 WIB
7 Strategi Ganjar Mempersiapkan Indonesia Emas 2045 dan Faktor Penghalang yang Bisa Menghambatnya
Ganjar Pranowo (Foto: Antara)
A
A
A

Kondisi tersebut harus segera dientaskan karena akan menghambat momentum generasi emas Indonesia 2045, karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia dan terkait dengan tingkat kesehatan dan bahkan kematian anak.

Hasil Survei Status Gizi Anak Muda di Indonesia (SSGBI) menunjukkan angka stunting mengalami penurunan hingga 27,67% pada tahun 2019. Meski angka pertumbuhan angka stunting mengalami penurunan, angka tersebut masih tergolong tinggi karena WHO bertujuan untuk mencegahnya. pengerdilan. Rasio ini tidak boleh melebihi 20%.

2. Pernikahan Dini

Pernikahan dini atau perkawinan anak akan berdampak pada kegagalan Indonesia di bidang pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan.

Karena itu, dibutuhkan kesungguhan dengan segerakan payung hukum untuk mencegah perkawinan anak. Selain itu, diperlukan sikap yang kuat untuk mencegah pihak-pihak yang mempromosikan perkawinan anak dengan menggunakan norma-norma konservatif.

3. Radikalisme

Hasil survei Alvara Research Center (Oktober 2017) menunjukkan bahwa tidak kurang dari 29,6% ahli sepakat bahwa negara Islam harus diperjuangkan untuk mengamalkan Islam secara kaffah. Dijelaskan lebih lanjut, sebanyak 19,4% pegawai aparatur sipil negara (ASN) dan 18,1% pegawai badan usaha milik negara (BUMN) menyatakan tidak setuju dengan Pancasila dan lebih memilih ideologi khilafah.

Hasil survei ini tidak mengherankan jika dikaitkan dengan hasil penelitian yang dilakukan Perhimpunan Pesantren dan Masyarakat Nahdlatul Ulama (P3M NU) pada 29 September hingga 21 September 2017. Penelitian mengungkapkan, sebanyak 41 masjid milik pemerintah. Lembaga di Jakarta yang memiliki rincian informasi 11 masjid kementerian, 11 masjid LSM, dan 21 masjid BUMN disebut berisiko terpapar ekstremisme. Menariknya, tak hanya kalangan profesional dan ASN yang terindikasi. Atlet, pelajar, bahkan lembaga pendidikan pun tak lepas dari risiko diserang ekstremisme.

Ken Setiawan, pendiri Indonesia Islamic State Crisis Center, mengatakan saat ini banyak atlet berprestasi yang direkrut dan menyatakan diri sebagai anggota kelompok ekstremis. Sementara itu, hasil survei lain yang dilakukan Alvara terhadap 2.400 siswa SMA dari kota-kota besar dan 1.800 pelajar dari 25 universitas ternama menunjukkan bahwa 16,3% siswa SMA dan 23,5% mahasiswa menyatakan setuju dengan jihad untuk mendukung Negara Islam atau kekhalifahan. Sementara itu, hasil penelitian Setara Institute (Februari-April 2019) menunjukkan tidak kurang dari 10 perguruan tinggi negeri di Indonesia aktif terpapar ekstremisme.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement