JAKARTA - Bakal Calon Presiden Ganjar Pranowo menggagas 7 strategi dalam mempersiapkan dan mewujudkan Indonesia Emas 2045. Tujuh strategi yang digagas oleh Ganjar yaitu mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang produktif, mengentaskan kemiskinan, menstabilkan harga bahan pokok, membangun hilirisasi industri kelas dunia, menguatkan jaring pengaman sosial, meningkatkan nilai tambah dan mengembalikan alam Indonesia menjadi lebih baik.
Ia yakin Indonesia bisa menjadi negara ekonomi besar, termasuk mewujudkan Indonesia yang semakin sejahtera, sehat, cerdas, dan produktif. Untuk mencapai hal tersebut, Ganjar mengatakan diperlukan tiga landasan, yaitu digitalisasi pemerintahan, pemberantasan korupsi dan penggandaan anggaran negara untuk memberikan pelayanan berkualitas.
Emrus Sihombing sebagai pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) meyakini, jika tujuh program prioritas dari Calon Presiden Ganjar Pranowo mampu menjadikan Indonesia negara adidaya. Menurutnya, untuk mencapai Indonesia emas pada tahun 2045 diperlukan landasan yang kokoh. Emrus menilai 7 program Ganjar memberikan landasan yang sangat cocok untuk itu.
Emrus berpendapat keunggulan utama Indonesia menjadi negara adidaya adalah negara kita mengandalkan Pancasila untuk mengajarkan pluralisme. Ia mengatakan, beberapa negara dan tokoh dunia memuji Pancasila sebagai dasar bangsa dan negara.
Seperti yang dikutip pada laman resmi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), pada tahun 2045, Indonesia akan mengalami usia keemasannya. Indonesia saat itu akan berusia 100 tahun atau satu abad. Menjadi negara maju setara negara adidaya adalah cita-cita Indonesia saat itu.
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan generasi yang akan mewujudkan Indonesia emas adalah generasi muda, khususnya yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Dijelaskannya, mereka yang terdaftar pada program sarjana dan pascasarjana rata-rata saat ini berusia sekitar 20 tahun. Saat Indonesia menginjak usia 100 tahun pada tahun 2045, mereka akan berusia sekitar 40 tahun atau lebih, yang merupakan usia puncak karir profesional.
Mempersiapkan generasi Indonesia Emas 2045 bukanlah hal mudah. Ada beberapa faktor yang dapat menghalangi kelancaran dari rencana Indonesia Emas 2045. Berikut adalah faktornya.
1. Masalah Stunting
Stunting merupakan suatu kondisi kekurangan gizi bagi bayi pada 1.000 hari pertama kehidupannya yang berlangsung secara berkepanjangan dan mengakibatkan terhambatnya perkembangan otak serta tumbuh kembang anak.
Kondisi tersebut harus segera dientaskan karena akan menghambat momentum generasi emas Indonesia 2045, karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia dan terkait dengan tingkat kesehatan dan bahkan kematian anak.
Hasil Survei Status Gizi Anak Muda di Indonesia (SSGBI) menunjukkan angka stunting mengalami penurunan hingga 27,67% pada tahun 2019. Meski angka pertumbuhan angka stunting mengalami penurunan, angka tersebut masih tergolong tinggi karena WHO bertujuan untuk mencegahnya. pengerdilan. Rasio ini tidak boleh melebihi 20%.
2. Pernikahan Dini
Pernikahan dini atau perkawinan anak akan berdampak pada kegagalan Indonesia di bidang pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan.
Karena itu, dibutuhkan kesungguhan dengan segerakan payung hukum untuk mencegah perkawinan anak. Selain itu, diperlukan sikap yang kuat untuk mencegah pihak-pihak yang mempromosikan perkawinan anak dengan menggunakan norma-norma konservatif.
3. Radikalisme
Hasil survei Alvara Research Center (Oktober 2017) menunjukkan bahwa tidak kurang dari 29,6% ahli sepakat bahwa negara Islam harus diperjuangkan untuk mengamalkan Islam secara kaffah. Dijelaskan lebih lanjut, sebanyak 19,4% pegawai aparatur sipil negara (ASN) dan 18,1% pegawai badan usaha milik negara (BUMN) menyatakan tidak setuju dengan Pancasila dan lebih memilih ideologi khilafah.
Hasil survei ini tidak mengherankan jika dikaitkan dengan hasil penelitian yang dilakukan Perhimpunan Pesantren dan Masyarakat Nahdlatul Ulama (P3M NU) pada 29 September hingga 21 September 2017. Penelitian mengungkapkan, sebanyak 41 masjid milik pemerintah. Lembaga di Jakarta yang memiliki rincian informasi 11 masjid kementerian, 11 masjid LSM, dan 21 masjid BUMN disebut berisiko terpapar ekstremisme. Menariknya, tak hanya kalangan profesional dan ASN yang terindikasi. Atlet, pelajar, bahkan lembaga pendidikan pun tak lepas dari risiko diserang ekstremisme.
Ken Setiawan, pendiri Indonesia Islamic State Crisis Center, mengatakan saat ini banyak atlet berprestasi yang direkrut dan menyatakan diri sebagai anggota kelompok ekstremis. Sementara itu, hasil survei lain yang dilakukan Alvara terhadap 2.400 siswa SMA dari kota-kota besar dan 1.800 pelajar dari 25 universitas ternama menunjukkan bahwa 16,3% siswa SMA dan 23,5% mahasiswa menyatakan setuju dengan jihad untuk mendukung Negara Islam atau kekhalifahan. Sementara itu, hasil penelitian Setara Institute (Februari-April 2019) menunjukkan tidak kurang dari 10 perguruan tinggi negeri di Indonesia aktif terpapar ekstremisme.
Dengan kondisi seperti itu, tentu sulit membayangkan generasi sekarang dan generasi usia produktif di tahun 2045 benar-benar bisa membawa Indonesia ke masa keemasannya. Namun, jika hal ini tidak segera dianggap sebagai ancaman serius dan tidak segera diatasi, maka membayangkan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan ideologi Pancasila tentu akan terasa rumit.
4. Korupsi
Korupsi merupakan permasalahan yang belum terselesaikan di Indonesia bahkan sudah menjadi budaya dan bagian dari sistem yang ada. Selain itu, korupsi merugikan masyarakat karena proyek yang disponsori negara tidak memenuhi standar yang disyaratkan.
Karena pelaksanaan suatu proyek memerlukan biaya yang tidak sedikit, tentunya standar mutu harus dikonsultasikan agar hasil proyek yang dilaksanakan dapat bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini sering terjadi di Indonesia, dimana proyek yang seharusnya bermanfaat bagi masyarakat ternyata kualitasnya buruk, bahkan membahayakan masyarakat karena dimanfaatkan oleh orang yang bertanggung jawab.
5. Kesenjangan Sosial
Kesenjangan sosial dan ekonomi masih jadi masalah utama di Indonesia. Masalah tersebut mesti diselesaikan tantangan biar tercapai Indonesia Emas 2045. Ketimpangan ekonomi dan sosial terjadi pada kesenjangan pendapatan dan akses sumber daya. Terjadi antar masyarakat, provinsi, kota besar, dan daerah terpencil. Teks ini akan dipersingkat menjadi lebih singkat.
Faktor-faktor yang mendorong kesenjangan sosial antara lain kurangnya pendidikan, kesenjangan pendapatan, terbatasnya akses terhadap sumber daya, dan sistem pengelolaan sumber daya alam yang tidak adil. Dalam hal ini kesenjangan sosial juga akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, ketimpangan ekonomi juga menjadi tantangan yang harus dihadapi Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Indonesia masih memiliki kesenjangan ekonomi yang cukup tinggi antara perkotaan dan daerah terpencil. Permasalahan utamanya adalah keterbatasan infrastruktur, masih banyak daerah terisolir yang belum ada.
(Arief Setyadi )