Haniyeh menolak dipecat dan menyebutnya sebagai upaya inkonstitusional. Dia berkata, “pemerintahannya akan melanjutkan tugasnya dan tidak mengabaikan tanggung jawab nasionalnya terhadap rakyat Palestina."
Haniyeh telah beberapa kali menyerukan rekonsiliasi dengan gerakan Fatah. Pada 6 Mei 2017, dia terpilih sebagai kepala Biro Politik Hamas.
Khaled Meshaal
Khaled Meshaal 'Abu Al-Walid' lahir di desa Silwad di Tepi Barat pada 1956. Ia menerima pendidikan dasar di sana sebelum bersama keluarganya berimigrasi ke Kuwait. Di Kuwait, ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah.
Meshaal dianggap sebagai salah satu pendiri gerakan Hamas, dan telah menjadi anggota biro politik sejak organisasi itu didirikan. Dia menjabat sebagai presiden biro politik gerakan tersebut antara 1996 dan 2017 dan diangkat sebagai pemimpinnya setelah kematian Sheikh Ahmed Yassin pada 2004.
Pada 1997, agen mata-mata Israel Mossad berusaha membunuhnya di bawah instruksi langsung dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Sebanyak 10 agen Mossad memasuki Yordania dengan paspor Kanada palsu. Khaled Meshaal, yang saat itu merupakan warga berkebangsaan Yordania, disuntik dengan zat beracun saat berjalan di sepanjang jalan di ibu kota, Amman.
Pihak berwenang Yordania mengetahui upaya pembunuhan tersebut dan menangkap dua anggota Mossad yang terlibat.
Mendiang Raja Hussein dari Yordania meminta Perdana Menteri Israel untuk memberikan penawar racun yang disuntikkan Meshaal, namun Netanyahu awalnya menolak permintaan tersebut.