Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Kesaktian Pangeran Diponegoro Luntur Akibat Tidur dengan Gadis Keturunan Tionghoa

Tim Okezone , Jurnalis-Jum'at, 20 Oktober 2023 |07:55 WIB
Kisah Kesaktian Pangeran Diponegoro Luntur Akibat Tidur dengan Gadis Keturunan Tionghoa
Pangeran Diponegoro. (Foto: Istimewa)
A
A
A

PANGERAN Diponegoro dikenal kebal, bahkan dari terjangan peluru. Ada satu momen sanga Pangeran menyesal karena melakukan kesalahan yang membuat kesaktiannya itu hilang sementara.

Peter Carey dalam “Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 – 1825” mengisahkan, usai bertempur di Perang Jawa, Diponegoro tertembak karena kekebalannya yang hilang.

Konon kesaktiaanya itu bisa sirna usai bersenang-senang dengan seorang perempuan Tionghoa yang menjadi tawanan pasukannya. Perempuan itu dikisahkan memang sengaja ditahan oleh pasukan Pangeran Diponegoro.

 BACA JUGA:

Oleh sang pangeran perempuan itu lantas diberdayakan sebagai juru pijat sebelum pertempuran Growok yang dahsyat itu di pertengahan Oktober 1826. Sebagaimana dikutip dari “Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 – 1825” dari Peter Carey.

Diponegoro menyesalkan perilaku bersenang-senang dengan perempuan Tionghoa ini. Bahkan sang pangeran sempat bersebadan dengan perempuan muda peranakan Tionghoa ini. Hal ini yang disebut Diponegoro sebagai biang keladi kekalahan pasukannya.

Apalagi di peperangan itu ia mendapat dua luka yang juga disebut menandakan kekuatan spiritualnya telah hilang sementara.

Pangeran Diponegoro juga menyalahkan adanya sosok perempuan ketika saudara iparnya Sosrodilogo mengalami kekalahan. Pasalnya di bulan Januari 1828, sang saudara ipar ini mengabaikan perintah dan larangan untuk tidak berhubungan seks dengan perempuan Tionghoa.

BACA JUGA:

Ternyata Lamaran Pangeran Diponegoro Pernah Ditolak Gadis Manado, Begini Ceritanya 

Diponegoro menganggap Sosrodilogo tertimpa sial sebab memperkosa seorang perempuan peranakan di Lasem, setelah kota di pantai utara itu sempat diduduki tanggal 31 Desember 1827.

Hal ini membuat Pangeran Diponegoro meminta pada tawanan perang Belanda untuk bisa berbicara dalam bahasa Jawa Kromo, bukan bahasa Melayu, dan wajib berbusana gaya Jawa bukan gaya Eropa.

Sang pangeran juga wajib mempertimbangkan untuk masuk islam. Hal ini pula yang diharapkan Pangeran Diponegoro pada kaum etnis Tionghoa yang memihak perjuangannya karena proses menjadi seorang muslim sangat sederhana, mulai memotong kucir rambut, disunat, dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement