JAKARTA – Indonesia perlu memainkan perannya di tengah rivalitas negara adidaya yang tak kunjung mereda mengakibatkan instabilitas global dan menghambat laju pembangunan internasional. Hal itu semakin memperburuk pemulihan pasca Covid-19 ditambah dengan adanya konflik terbuka di berbagai belahan dunia (Perang Rusia-Ukraina, Perang Palestina-Israel, dan Konflik Laut Tiongkok Selatan).
Analis Politik dan Keamanan LAB 45 Omar Farizi W mengungkapkan, berdasarkan hasil kajian LAB 45, dalam periode 5-10 tahun ke depan persaingan antarnegara adidaya akan terus berlangsung dengan bentuk dan bidang yang semakin meluas.
“Kondisi tersebut diperburuk dengan konstelasi poros global yang multipolar memiliki kerentanan menuai friksi berujung konflik dalam proses pergeseran tatanan dunia baru,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima, Kamis (26/10/2023).
Hal tersebut diungkapkan Omar dalam seminar yang digelar di Samarinda, bertema “Rivalitas Strategis dan Dinamika Geopolitik” yang digelar LAB 45 berkolaborasi bersama dengan Program Studi Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Mulawarman (UNMUL).
Omar menambahkan, untuk menghadapi dan mengamankan kepentingan nasional Indonesia, Omar menilai perlu diupayakan beberapa hal yakni, pertama, meningkatkan kapasitas-pengaruh Indonesia agar dapat memberikan ruang gerak lebih besar Indonesia sebagai stabilisator kawasan berdasarkan prinsip politik luar negeri bebas-aktif. Kemudian, mengedepankan penegakan dan pembentukan norma-hukum internasional khususnya yang mendukung poros maritim dunia.
Selanjutnya perlu menguatkan inisiatif pengaturan kawasan yang solid, konsisten, dan pasti serta berorientasi kerja sama multilateral dalam menengarai perselisihan geopolitik. Terakhir perlu memantapkan relasi bilateral Indonesia dengan kelompok negara yang sepemahaman dan seperjuangan (ASEAN – Solidaritas Negara Selatan).
Sementara itu, Dosen Hubungan Internasional UNPAR Adrianus Harsawaskita mengatakan, rivalitas strategis dalam tatanan geopolitik mengharuskan Indonesia untuk berkontribusi aktif dengan menjaga hubungan yang strategis dengan negara adidaya. Indonesia, menurutnya, mempunyai peluang untuk bertindak aktif dengan mendorong kerja sama pada kedua negara adidaya (Amerika Selatan dan Tiongkok) untuk dapat menciptakan kebijakan luar negeri bebas-aktif yang pragmatis.
“Hal ini dikarenakan dinamika geopolitik semakin berkembang dan tidak hanya dapat dipandang sebagai sebuah hubungan kawasan dan perlu dibingkai ulang sebagai perebutan ruang dalam konteks global,” katanya.
Adrianus pun merekomendasikan kebijakan luar negeri Indonesia saat ini perlu melawan dengan geopolitik kritis yang menentang upaya pengkotak-kotakan yang terjadi di dunia dengan memanfaatkan modalitas hubungan bilateral Indonesia, seperti kerja sama ekonomi dengan Tiongkok dan militer dengan Amerika Serikat. Tidak cukup pelaksanaan instrumen kebijakan bebas-aktif yang menjaga netralitas dan sentralitas ASEAN dalam menghadapi kontestasi geopolitik klasik.
Senada diungkapkan Dosen Hubungan Internasional UNMUL, bahwa peran aktor negara seharusnya menjadi fokus utama dalam dinamika geopolitik yang semakin berkembang, khususnya dalam persaingan strategis terkait perebutan sumber daya, seperti energi. Unis juga menyoroti meningkatnya kompleksitas dinamika geopolitik ini disebabkan oleh pergeseran tren energi dunia dari Utara ke Selatan.
Menurutnya, pergeseran tersebut telah mengakibatkan peningkatan intensitas interaksi antara berbagai negara, yang mendorong terbentuknya aliansi dan rivalitas di antara negara dan kawasan. Perebutan sumber daya oleh negara-negara adidaya menjadi pendorong utama dalam upaya perluasan pengaruh mereka di berbagai kawasan.
“Maka, pembelajaran dari rivalitas ini akan menjadi tantangan bagi Indonesia di masa mendatang, terutama dalam konteks pembangunan IKN yang memiliki potensi ancaman dari ALKI 2,” tuturnya.
Sebab itu, penting bagi Indonesia untuk kembali mendorong gagasan poros maritim dunia dan meningkatkan kemandiriannya dalam menanggapi dinamika geopolitik yang terus berkembang.
Dalam diskusi tersebut dapat direfleksikan Arif Wicaksa selaku moderator, bahwa rivalitas strategis yang marak terjadi sebagai sebuah realita yang tidak bisa dihindari oleh Indonesia. Maka, Indonesia sebagai aktor global south, harus berperan aktif dalam membangun tatanan dunia baru.
“Dalam rangka tersebut, maka perlu ada penguatan ruang-ruang domestik agar Indonesia dapat menjadi aktor yang dapat diperhitungkan,” tuturnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.