Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sosok Jenderal Besar Sekaligus Panglima ABRI yang Berani Gebrak Meja di Hadapan Soeharto

Alifia Zahra Kinanti , Jurnalis-Senin, 30 Oktober 2023 |16:43 WIB
Sosok Jenderal Besar Sekaligus Panglima ABRI yang Berani Gebrak Meja di Hadapan Soeharto
Sosok yang berani menggebrak meja di hadapan Soeharto/Foto: Istimewa
A
A
A

JAKARTA - Rezim Orde Baru tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Indonesia yang mengalami rezim otoriter kepemimpinan Soeharto. Salah satunya adalah ketika Jenderal Muhammad Jusuf sebagai Panglima ABRI menggebrak meja di depan Presiden Soeharto.

Padahal, semasa kepemimpinan presiden Soeharto tidak ada orang yang pernah berani menggebrak meja di hadapannya.

Jenderal Andi M Jusuf Amir adalah mantan Panglima ABRI yang juga pernah ditunjuk sebagai Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan oleh Presiden Soeharto. Pada saat pemerintahan Soeharto ia bertahan menjadi Menteri Perindustrian hingga 1978.

Kemudian, M Jusuf naik jabatan menjadi Menhankam menggantikan posisi Jenderal Maraden Panggabean. Jusuf dengan Amir selaku mantan Menteri Dalam Negeri pada tahun 1969 memiliki hubungan yang sangat erat.

Tidak hanya itu, keduanya juga tokoh di balik lahirnya Supersemar. Jusuf dengan cepat menjadi orang terkenal di ABRI. Dia dianggap memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan tugas yang diberikan Soeharto, yaitu manunggal dengan rakyat.

Popularitas karir Jusuf dalam bidang militer memberikan dampak ke dirinya, Letjen Leornadus Benyamin Moerdani atau Benny Moerdani sebagai pemimpin jaringan intelijen Soeharto memberikan sebuah informasi ke Istana negara bahwa Jusuf dianggap memiliki ambisi politik.

Akhirnya muncul isu miring tentang Jusuf, yang mengatakan bahwa ia akan melemahkan kekuatan internal untuk menjadi presiden. Hal ini bisa dilihat dari gerak gerik Jusuf yang sering mendatangi barak-barak prajurit dan perhatiannya yang lebih ke kesejahteraan dan perlengkapan pasukan.

Isu mengenai dirinya semakin kencang, Jusuf bahkan diisukan memberikan kenaikan pangkat langsung di lapangan untuk prajurit berprestasi untuk menaikan popularitasnya. Isu ini terdengar oleh Soeharto sehingga ia tidak tinggal diam begitu saja.

Pada suatu malam Soeharto mengumpulkan panglima para prajurit di kediamannya, mereka yang dipanggil yakni Mensesneg Soedharmono, Sekkab Moerdiono, Asintel Hankam Letjen Benny Moerdani, Mendagri Amirmachmud, dan juga Jusuf.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement