Hal ini dimulai sejak pendiri Partai Komunis Tiongkok, Mao Zedong, yang mengirim senjata ke Palestina untuk mendukung apa yang disebut gerakan “pembebasan nasional” di seluruh dunia. Mao bahkan membandingkan Israel dengan Taiwan – keduanya didukung AS – sebagai basis imperialisme Barat.
Dalam beberapa dekade terakhir, Tiongkok membuka diri secara ekonomi dan menormalisasi hubungan dengan Israel, yang kini memiliki hubungan dagang bernilai miliaran dolar.
Namun Tiongkok telah menegaskan bahwa pihaknya terus mendukung Palestina. Dalam pernyataan mereka mengenai konflik terbaru ini, para pejabat Tiongkok dan bahkan Presiden Xi Jinping telah menekankan perlunya negara Palestina yang merdeka.
Salah satu efek sampingnya adalah meningkatnya antisemitisme online, yang disebarkan oleh blogger nasionalis. Beberapa orang di media sosial Tiongkok menyamakan tindakan Israel dengan Nazisme dengan menuduh mereka melakukan genosida terhadap warga Palestina, yang memicu kecaman dari Kedutaan Besar Jerman di Beijing.
Penikaman terhadap anggota keluarga pegawai kedutaan Israel di Beijing juga menambah kegelisahan.
Semua ini mungkin bukan pertanda baik bagi Tiongkok ketika mencoba melibatkan pemerintah Israel.
Mengingat ketidakpastian ini, lalu mengapa Tiongkok terlibat?
Salah satu alasannya adalah kepentingan ekonomi mereka di Timur Tengah, yang akan terancam jika konflik meluas.
Beijing kini sangat bergantung pada impor minyak dari luar negeri, dan para analis memperkirakan setengah dari impor tersebut berasal dari negara-negara Teluk. Negara-negara Timur Tengah semakin menjadi pemain penting dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan Tiongkok (BRI), yang merupakan landasan kebijakan luar negeri dan ekonomi Tiongkok.
Namun alasan lainnya adalah konflik ini memberikan peluang emas bagi Beijing untuk meningkatkan reputasinya.