Julukan Prabuwangi itu diberikan sebagai penghormatan atas semua pengabdian dan jasa sang raja, sehingga namanya menjadi wangi atau harum. Lalu raja-raja setelahnya dikenal dengan nama Prabu Siliwangi, yang artinya 'asilih Prabuwang'. Maksudnya menggantikan raja Prabuwangi.
Ada berapa raja sunda yang menggantikan Prabuwangi?
Menurut Ayat, dari naskah wangsakerta dan cerita Parahyangan mecatat jumlah yang sama, yaitu delapan raja. Disinilah ada perbedaan antara Ayat dengan beberapa peneliti sejarah sunda. Mereka hanya mengakui Sri Paduka Maharaja 1482-1521 sebagai raja Siliwangi. Sedangkan Ayat mengakui ada delapan raja yang berjuluk Prabu Siliwangi.
Sama dengan kepercayaan orang jawa, yang menganggap bahwa ada 5 raja yang bernama Raja Brawijaya. Para peneliti sunda menganggap Sri Paduka Maharaja sebagai raja sunda terbesar. Namun, Ayat mempertanyakan kemungkinan Sri Paduka Maharaja sebagai raja sunda terbesar dan masih sempat memperluas wilayahnya. Sementara itu ia harus menghadapi kekuatan kerajaan Islam dari Demak dan Cirebon. Bukankah untuk mempertahankan dirinya saja ia harus minta bantuan kepada Portugis, yang menduduki Malaka sejak 1511.