THOMAS Matulessy atau dikenal sebagai Kapten Pattimura merupakan pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Maluku. Pattimura merupakan salah satu pejuang yang angkat senjata melawan Belanda.
Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC, Pattimura pernah berkarier di militer sebagai mantan sersan Militer Inggris. Kemudian, namanya terkenal karena memimpin perlawanan rakyat Maluku melawan Belanda melalui perang Pattimura.
Melansir pemberitaan Okezone, Jumat (10/11/2023) saat masuk abad ke-17 dan 18, terjadi perlawanan bersenjata melawan Belanda (VOC). Perlawanan ini terjadi karena praktik penindasan kolonialisme Belanda dalam bentuk monopoli perdagangan, pelayaran hongi, kerja paksa, dan sebagainya. Semua kalangan masyarakat merasakan dampaknya.
Rakyat Maluku mengalami perpecahan dan kemiskinan selama dua ratus tahun. Rakyat Maluku memproduksi pala dan cengkeh untuk pasar dunia. Namun, mereka tidak mendapat keuntungan apa-apa dari produksi tersebut.
Fase kedua pendudukan Inggris di Maluku pada 1810-1817 dan berakhir pada 25 Maret 1817 setelah Belanda menguasai Maluku. Rakyat Maluku tentu menolak kedatangan Belanda dengan membuat “Proklamasi Haria” dan “Keberatan Hatawano”. Proklamasi Haria ini disusun Pattimura.
Pemerintah Belanda mulai memaksanakan kekuasaannya lewat Gubernur Van Middelkoop clan Residen Saparua Johannes Rudolf van der Berg. Setelah itu pecahlah perlawanan bersenjata dengan rakyat Maluku.
Akhirnya diadakan musyawarah. Di forum tersebut, disetujui pengangkatan Pattimura sebagai kapten besar.
Tepat di tanggal 7 Mei 1817 dalam rapat umum di Baileu negeri Haria, Thomas Matulessy atau Pattimura dikukuhkan dalam upacara adat sebagai “Kapitan Besar”.
Setelah menjadi kapten, Pattimura memilih beberapa orang yang membantunya, seperti Anthoni Rhebok, Philips Latimahina, Lucas Selano, Arong Lisapafy, Melchior Kesaulya dan Sarassa Sanaki, Martha Christina Tiahahu, serta Paulus Tiahahu. Pattimura bersama Philips Latumahina dan Lucas Selano melakukan penyerbuan ke benteng Duurstede.
Berita jatuhnya benteng Duurstede membingungkan pihak Belanda. Gubernur Van Middelkoop dan komisaris Engelhard memutuskan militer yang besar ke Saparua di bawah pimpinan mayor Beetje.