Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

AS Setujui Vaksin Chikungunya Pertama di Dunia

Susi Susanti , Jurnalis-Sabtu, 11 November 2023 |16:08 WIB
AS Setujui Vaksin Chikungunya Pertama di Dunia
AS setujui vaksin chikungunya pertama di dunia (Foto: Zee News)
A
A
A

NEW YORK - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (AS) atau FDA telah menyetujui vaksin chikungunya yang pertama di dunia, yang dianggap sebagai ancaman kesehatan global yang sedang berkembang.

Penyakit yang ditularkan nyamuk ini menyebabkan demam dan nyeri sendi serta bisa berakibat fatal bagi bayi baru lahir.

Persetujuan FDA diharapkan dapat mempercepat peluncuran vaksin secara global.

FDA pada Jumat (10/11/2023) mengatakan vaksin bernama Ixchiq telah disetujui untuk mereka yang berusia 18 tahun ke atas dan berisiko tinggi tertular penyakit tersebut. Vaksin ini dikembangkan oleh Valneva Eropa dan akan diberikan dalam satu kesempatan.

“Infeksi virus chikungunya dapat menyebabkan penyakit parah dan masalah kesehatan berkepanjangan, terutama bagi orang lanjut usia dan individu dengan kondisi medis yang mendasarinya,” kata pejabat senior FDA Peter Marks, dikutip BBC.

Pada tahun ini, sekitar 440.000 kasus chikungunya, termasuk 350 kematian, telah dilaporkan pada September lalu.

Saat ini belum ada obat khusus untuk mengatasi chikungunya. Amerika Selatan dan Asia Selatan menjadi negara dengan jumlah kasus terbanyak tahun ini.

FDA mengatakan setidaknya lima juta kasus chikungunya telah dilaporkan sejak 2008. Gejala lainnya termasuk ruam, sakit kepala, dan nyeri otot. Nyeri sendi bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Masyarakat di wilayah tropis dan subtropis di Afrika, Asia Tenggara, dan sebagian wilayah Amerika mempunyai risiko tertinggi tertular penyakit ini karena nyamuk pembawa virus chikungunya merupakan endemik di wilayah tersebut.

“Namun, virus chikungunya telah menyebar ke wilayah geografis baru yang menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit ini secara global,” terang FDA.

Data dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa menunjukkan bahwa Brasil memiliki jumlah kasus tertinggi sepanjang tahun ini dengan 218.613 kasus.

Lebih dari 93.000 kasus juga telah dilaporkan di India, dimana ibu kota Delhi mengalami wabah besar pada 2016.

(Susi Susanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement