Raja Faisal terbunuh dua tahun kemudian dan sebagai akibatnya hubungan Arab Saudi-Palestina kembali memburuk untuk kedua kalinya.
Ketegangan terjadi antara Arab Saudi-Palestina selama Perang Teluk 1991, dimana Yasser Arafat, pemimpin Palestina, secara terbuka mendukung pemimpin Irak Saddam Hussein yang menginvansi Kuwait, sekutu dekat Arab Saudi.
Hal ini memicu ketidakpercayaan Arab Saudi terhadap Palestina. Sejak saat itu, hubungan Arab Saudi-Palestina naik-turun, dengan tudingan Arab Saudi membantu Israel, menurunnya bantuan dari Arab Saudi, dan meningkatnya bantuan Iran ke Palestina. Perlu diketahui Iran adalah musuh bebuyutan Arab Saudi sejak 1979.
Meskipun Arab Saudi, terutama kalangan tua yang bersimpati terhadap Palestina, beberapa warga Palestina memandang Arab Saudi dengan tidak baik. Hal ini dikarenakan desas-desus Arab Saudi menormalkan hubungannya dengan Israel dan ketidakpercayaan terhadap para pejabat Saudi.
Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi, menyatakan bahwa selama 40 tahun terakhir, Palestina telah melewatkan kesempatan dan menolak semua tawaran yang diberikan, menerima perdamaian atau 'tutup mulut dan berhenti mengeluh.' Perkataannya memicu protes dari warga Palestina.