JAKARTA – Arab Saudi dan Palestina memiliki hubungan yang cukup dekat, dengan Riyadh menjadi salah satu pendukung terbesar pembentukan negara Palestina. Namun, meski Palestina memiliki kedutaan besar di Riyadh, Arab Saudi tidak memiliki kedutaan besar di Ramallah.
Pada Agustus, Duta Besar Nayef al-Sudairi, yang saat ini menjabat sebagai utusan Arab Saudi untuk Yordania, ditunjuk sebagai utusan non-redisen Palestina dan konsul jenderal di Yerusalem di Kedutaan Palestina di Amman.
Arab Saudi mendukung pembentukan negara Palestina berdasarkan perbatasan sebelum 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Hal ini dinyatakan oleh Turki bin Faisal Al Saud, seorang Pangeran Saudi terkemuka yang dekat dengan Raja Salman.
Setelah terjadinya Perang Arab-Israel 1948, Arab Saudi menjauh dari konflik langsung dengan Israel dan melakukan pendekatan yang lebih ramah.
Pada masa pemerintahan Raja Faisal, penguasa liberal dan sangat mendukung Palestina, Arab Saudi telah menjalin hubungan yang lebih erat dan mendukung perjuangan Palestina hingga mencapai tingkat yang lebih tinggi setelah Perang Arab-Israel 1973.
Krisis minyak terjadi pada 1973. Pendapatan minyak baru memungkinkan Faisal untuk meningkatkan bantuan subsidi ke Suriah, Mesir, dan Organisasi Pembebasan Palestina. Peningkatan dimulai setelah Perang Enam Hari 1967.