WASHINGTON - Israel menggunakan amunisi fosfor putih kontroversial yang disediakan Amerika Serikat (AS) untuk menyerang Dheira, sebuah desa kecil di Lebanon selatan, Washington Post (WaPo) melaporkan pada Senin, (11/12/2023) mengutip analisisnya sendiri terhadap pecahan peluru yang ditemukan dari tempat kejadian.
Insiden tersebut dilaporkan terjadi pada 16 Oktober, ketika militer Israel menargetkan desa tersebut dengan tembakan artileri. Seorang reporter yang bekerja untuk surat kabar tersebut menemukan pecahan tiga peluru artileri 155 mm yang ditembakkan ke Deira. Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya empat rumah terbakar dan melukai sedikitnya sembilan warga sipil.
Cangkangnya ternyata adalah peluru M825 'asap' atau 'penanda', dikemas dengan potongan kain kempa yang jenuh dengan fosfor putih. Bahan kimia tersebut akan terbakar dengan sendirinya jika terkena udara dan menghasilkan asap putih tebal yang berguna untuk mengaburkan pergerakan pasukan. Namun asapnya juga beracun, dan walaupun fosfor putih itu sendiri terbakar dengan sangat panas – dan sulit untuk dipadamkan – cangkang ‘asap’ ini dapat berfungsi ganda sebagai pembakar jika digunakan tanpa tindakan pencegahan yang diperlukan.
Fragmen peluru yang ditemukan berisi kode produksi yang “cocok dengan nomenklatur yang digunakan oleh militer AS untuk mengkategorikan amunisi yang diproduksi di dalam negeri,” kata WaPo, mengutip para ahli senjata. Peluru tersebut diproduksi oleh depot amunisi di Louisiana dan Arkansas pada 1989 dan 1992, sesuai dengan penandaannya, dan warna bodinya yang hijau muda, serta tulisan 'WP' konsisten dengan peluru fosfor putih terbitan standar AS. Asal usul peluru tersebut juga telah diverifikasi oleh Human Rights Watch dan Amnesty International, dan kelompok yang terakhir menyarankan bahwa insiden tersebut harus diselidiki sebagai kejahatan perang.