“Isi teks dalam manuskrip-manuskrip ini cukup berbobot. Abad ke-19 di tempat ini sudah menggunakan kurikulum kitab-kitab seperti ini. Artinya, nuansa keilmuan keislaman di daerah ini sangat berkembang,” ungkap M. Adib Misbachul Islam yang merupakan Sekretaris Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).
Manuskrip-manuskrip tersebut seluruhnya ditulis di atas kertas Eropa dan beberapa juga terdapat manuskrip berbahan kulit kayu daluwang. Adapun dari sisi penggunaan aksara dan bahasa, manuskrip-manuskrip di sini mayoritas menggunakan aksara Arab dan Pegon serta bahasa Arab dan Jawa.
“Ditemukan titi mangsa atau waktu penulisan manuskrip-manuskrip ini. Salah satunya adalah berangka tahun 1847. Selain itu, ditemukan pula nama penyalin seperti Muhammad Idris, Ahmad Anom, dan Puspa Sentana,” ungkap Direktur Lingkar Filologi Ciputat, Fathurrochman Karyadi.
Temuan-temuan tersebut tentu akan memberikan sumbangan besar untuk mengungkap kekayaan khazanah intelektual masyarakat Indonesia khususnya pada abad ke-19. Tim di lapangan akan mencatat setiap informasi yang ditemukan baik yang berada di dalam manuskrip maupun berbagai informasi yang ditemukan berdasarkan paparan dari masyarakat setempat.
Data-data tersebut akan menyempurnakan hasil digitalisasi dari manuskrip-manuskrip tersebut. Hasilnya akan diunggah dalam sebuah database manuskrip-manuskrip Asia Tenggara yang kedepan akan dapat diakses secara publik untuk berbagai keperluan non-komersial dan akademik. Sementara itu, manuskrip fisiknya akan tetap disimpan oleh pemiliknya yang sebelumnya telah diberikan pendampingan mengenai tata cara perawatannya.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.