Sedangkan panser Anoa produksi PT Pindad, dengan spesifikasi dan kualitas sama, harganya hanya 50 persen dari harga panser impor. Ini menunjukkan kapabilitas Indonesia dalam memproduksi berbagai jenis alutsista, termasuk roket, radar, dan tank.
“Panser Anoa kini menjadi produk kebanggaan yang kemudian dikembangkan dengan tambahan persenjataan. Anoa hanyalah salah satu contoh, bahwa bangsa kita mampu memproduksi berbagai alutsista, seperti roket, radar, tank, dan seterusnya,” kata Ammar.
Menteri Keuangan sempat menyampaikan soal rencana pemerintah pada November tahun lalu. Yakni, akan meningkatkan anggaran kredit ekspor Kementerian Pertahanan tahun 2024, sebesar 25 miliar AS (Rp385 triliun). Melonjaknya anggaran ini tentu akan membebani APBN.
Selain itu, menambah utang (kredit ekspor), mengingat kredit ekspor berarti membeli produk luar dengan kredit yang dijamin pemerintah.
Menurut Ammar, meskipun impor alutsista dianggap sebagai cara yang cepat, namun memiliki risiko tinggi terkait dengan aspek harga. Alutsista yang diimpor seringkali mahal karena bunga yang tinggi, komisi yang signifikan, dan potensi mark-up yang sulit dikontrol karena alasan kerahasiaan.
Sebab itu, langkah menuju kemandirian alutsista diharapkan bukan hanya sebagai usaha untuk menjaga kedaulatan, tetapi juga sebagai strategi untuk mengoptimalkan pengeluaran negara.
"Alutsista yang diimpor acapkali sangat mahal, karena bunga tinggi dan komisi yang berlipat-lipat, belum lagi kemungkinan terjadi mark-up yang sulit dikontrol, karena alasan kerahasiaan," pungkasnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.