Hardiansyah yang merupakan alumnus dari perguruan Muhammadiyah itu juga menilai, sikap Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, yang mau menerima Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapresnya, adalah bentuk mengaminkan pelanggaran etika berdemokrasi. Terlebih, baginya, sikap Prabowi tersebut dipandang sebagai upayanya untuk haus akan kekuasaan.
"Demikian juga Prabowo Subianto, dengan menerima Gibran anak Jokowi sebagai cawapres, menunjukkan Prabowo adalah seorang pemburu kekuasaan yang tidak memiliki jiwa kenegarawanan," tutur Hardiansyah.
Maka dari itu, Hardiansyah mengatakan Alumni Perguruan Muhammadiyah (APM), yang merupakan wadah komunikasi alumni perguruan Muhammadiyah dari Tingkat TK hingga perguruan Tinggi seluruh Indonesia, menyampaikan petisi dengan nama Petisi Hapus Prabowo dan Gibran (PHP GIBRAN).
"Kami meminta kepada seluruh warga dan simpatisan Muhammadiyah pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk menghapus pasangan Prabowo - Gibran dari opsi pilihannya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tanggal 14 Februari 2024," ujarnya dalam ajakan petisi tersebut.
Hardiansyah melanjutkan, bagi warga atau simpatisan Muhammadiyah yang terlanjut menambatkan hati untuk memilih Prabowo-Gibran pada hari pencoblosan 14 Februari 2024 besok, untuk segera melakukan taubat politik. Hal ini dikarenakan, lanjut Hardiansyah, karena mengacu pada keputusan dan panduan politik khittah Muhammadiyah.
"Atas dasar khittah, keputusan dan panduan politik Muhammadiyah serta demi kepentingan besar menyelamatkan bangsa, meminta kepada anggota, pengurus dan eksponen Muhammadiyah lainnya, yang saat ini mendukung dan menjadi bagian dari pemenangan Prabowo - Gibran untuk bertaubat politik dengan tidak lagi mendukung dan memenangkan Prabowo-Gibran," tegas Hardiansyah.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.