Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

3 Penyebab Kabinet Israel Akan Segera Runtuh

Maria Regina Sekar Arum , Jurnalis-Selasa, 06 Februari 2024 |13:21 WIB
3 Penyebab Kabinet Israel Akan Segera Runtuh
3 penyebab kabinet Israel akan runtuh (Foto: Flash90)
A
A
A

ISRAEL - Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Kabinet Perang Israel terpecah menjadi dua.

Mengutip Ahram Online, perselisihan antara Perdana Menteri, Benjamin Netanyahu dengan mantan Menteri Pertahanan, Benny Gantz dan juga Menteri Pertahanan saat ini, Yoav Galant menimbulkan pertanyaan stabilitas pemerintahan ini.

Meningkatnya ketegangan menjadi jelas, ketika Gantz dan Galant menolak undangan Netanyahu untuk mengadakan konferensi pers dengannya pada tanggal 30 Desember 2023. Kursi kosong mereka muncul di layar.

Kedua menteri tersebut, Gantz dan Galant mengungkapkan alasan mereka menolak menghadiri konferensi pers pada pertemuan terakhir konferensi militer pada 7 Januari 2024.

Netanyahu masih menolak membahas “hari berikutnya”, yaitu rencana politik ketika perang di Gaza berakhir.

Alasan lainnya adalah penolakan perdana menteri untuk mengumumkan secara resmi kapan perang tahap ketiga akan dimulai. Terdapat juga perbedaan pendapat mengenai cara menilai situasi di Lebanon selatan dan bagaimana Israel harus meresponnya. Gantz dan Galant menentang perluasan konflik.

Di tingkat lain, kepala staf saat ini, Herzi Halevi telah diserang oleh menteri sayap kanan di pemerintahan Netanyahu, karena rencananya membentuk komisi untuk menyelidiki kegagalan pertahanan dan intelijen Israel yang membuka jalan bagi Operasi Banjir Al-Aqsa.

Lalu, apa penyebab kabinet Israel akan segera runtuh? Berikut 3 penyebab kabinet Israel akan segera runtuh.

1. Menurunnya popularitas Netanyahu

Menurunnya popularitas Netanyahu tidak hanya berdampak pada dirinya dan prospeknya untuk tetap menjadi perdana menteri, namun juga masa depan partainya dan partai-partai agama sayap kanan yang telah memanfaatkan popularitas Likud. Jika Partai Likud, penggerak kelompok sayap kanan, bangkrut, sekutu-sekutu kecilnya yang ekstremis juga akan ikut terpuruk.

2. Meningkatnya ketegangan antara Israel dan AS

Alasan utama Netanyahu memasukkan Gantz ke dalam kabinet perang adalah untuk memberikan kesan kepada Amerika Serikat bahwa pemahaman politik dan militer Israel tentang cara melancarkan perang di Gaza mencerminkan konsensus seluruh spektrum politik Israel. Jika Gantz, pemimpin partai oposisi utama, mengundurkan diri, AS akan mulai mempertanyakan tingkat konsensus di Jalur Gaza.

Akibatnya, visi masa depan Washington dan Netanyahu semakin berbeda mengenai siapa yang akan mengendalikan Gaza dan apa peran Otoritas Palestina di sana, batasan peran militer Israel setelah perang, dan bagaimana mengelola variabel-variabel lainnya. terkait persamaan keamanan regional yaitu Houthi, Hizbullah dan Iran.

3. Pengaruh Gantz terhadap perang semakin berkurang

Melansir The Jerusalem Post, Gantz dan Gadi Eisenkot, seorang menteri tanpa portofolio, bergabung dengan pemerintahan darurat untuk mewujudkan slogan politik yang sudah usang yaitu ‘berusaha sekuat tenaga’, memberikan kontribusi, dan berpartisipasi aktif dalam upaya perang.

Pada saat yang sama, keduanya merasa bahwa mereka memegang kendali atas keputusan tersebut dan selama tentara IDF berperang di Gaza, perang harus terus berlanjut.

Selain itu, penarikan diri sekarang membawa risiko politik yang serius, karena keputusan tersebut dapat diartikan sebagai pelarian Gantz dan Eisenkot dari tanggung jawab, yang dapat berdampak serius pada kursi Partai Persatuan Nasional yang saat ini populer di masa depan.

(Susi Susanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement