JAKARTA - Diaspora Indonesia mengadakan diskusi seputaran calon pemimpin bangsa bersama Romo Prof. Dr. Franz Magnis Suseno S.J. yang berkarya di Indonesia sejak 1961 dan sekarang merupakan Emeritus Professor Sekolah Filsafat Driyarkara. Tokoh agama dan budayawan yang mengawali petualangannya sebagai misionaris yang kemudian menjadi dosen dan guru besar filsafat, serta menerbitkan banyak buku tersebut secara gamblang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh moderator.
Acara yang diprakarsai oleh Monica Nathan dari Chicago, Amerika Serikat (AS) dibuka untuk umum dan dihadiri oleh berbagai masyarakat Indonesia di berbagai lintas negara. Tak heran jika sebelum acara dimulai hadirinpun telah membeludak melebihi kapasitas 100 peserta. Monica dan Ervintha selaku moderator mewakili para peserta dalam kesempatan tersebut mengajukan serangkaian pertanyaan seputar demokrasi dan calon pemimpin bangsa yang akan datang.
Pada diskusi yang diselenggarakan secara daring dan dibagikan langsung melalui kanal YouToube @vmcnewyorkchannel732, Selasa pagi WIB, Romo Magnis buka suara mengenai demokrasi Indonesia yang dirasa mengalami kemerosotan dan dikuatirkan dapat menghancurkan 25 tahun reformasi yang selama ini diperjuangkan dengan susah payah.
Dalam kesempatan ini Romo Magnis juga menyoroti Presiden Republik Indonesia Jokowi. Ia berpendapat kendati banyak perubahan-perubahan baik yang dilakukan selama hampir 10 tahun masa jabatan, namun akhir-akhir ini telah terjadi kemunduran demokrasi. Presiden Jokowi disebutnya mengambil sikap-sikap yang mencemaskan dan terlihat secara terbuka mendukung anaknya yang masih sangat hijau untuk maju menjadi Cawapres 02 di Pilpres mendatang dengan melakukan pelanggaran etika dan memanipulasi Mahkamah Konstitusi.
Menurutnya, Jokowi yang merupakan Presiden seluruh rakyat Indonesia sebaiknya bersikap netral dan tidak menunjukan dukungan apalagi menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan salah satu paslon. Dikhawatirkan masyarakat tidak akan percaya jika sampai Paslon 02 mendapatkan lebih dari 50% suara dalam satu putaran karena selama ini mereka telah melanggar etika dan dengan terbuka dibantu dan didorong secara sepihak oleh Presiden.
“Netralitas (Presiden) sudah dilanggar, jika paslon 02 menang lebih dari 50%, siapa yg akan percaya? Ini akhir dari demokrasi kita” ujar Romo Magnis.
Romo Magnis juga mengkritik DPR sebagai wakil rakyat yang hanya diam dan menjadi dewan orang kaya yang saat ini tidak berani melawan Jokowi. Ia mengungkapkan bahwa demokrasi mengalami kemerosotan dimana demokrasi dikuasai oleh oligarki.
Disinggung mengenai pernyataannya tentang memilih pemimpin terbaik untuk mencegah yang terburuk, Romo Magnis mengungkapkan bahwa itu merupakan prinsip demokrasi. Dia berpendapat bahwa jika ada paslon yang berbahaya maka harus dicegah untuk mencapai kekuasaan. Meskipun harus memilih yang mungkin tidak seratus persen memuaskan, menurutnya yang terpenting adalah bukan yang terburuk memegang kekuasan karena hal itu akan berdampak besar terhadap masyarakat.
Secara khusus Romo Magnis menyampaikan agar para Pastor jangan menjadi promotor salah satu pasangan walaupun secara pribadi meyakini salah satu paslon, baginya jemaat bebas untuk menentukan pilihan. Ia menegaskan agar gereja jangan menjadi tempat yang seakan-akan mempropagandakan satu pihak, melainkan mengajak para jemaat untuk berpikir secara bijak dalam menentukan pilihan.
Romo Magnis dalam kesempatan tersebut juga memberikan tanggapan atas banyaknya pihak yang bersikap netral dan tidak menggunakan hak pilihnya, ia berharap agar para jemaat jangan hanya netral. Ia memberi perumpamaan seperti onta yang menenggelamkan kepalanya di pasir karena tidak mau melihat situasi yang terjadi sekarang ini. Menurutnya menjadi warga yang netral merupakan tanda kebodohan.