Di Ethiopia, di mana konsumsi daging keledai dianggap tabu, salah satu dari dua rumah jagal keledai di negara tersebut ditutup pada 2017 sebagai respons terhadap protes publik dan kemarahan media sosial.
Negara-negara termasuk Tanzania dan Pantai Gading melarang penyembelihan dan ekspor kulit keledai pada 2022. Namun negara tetangga Tiongkok, Pakistan, menyambut baik perdagangan tersebut. Akhir tahun lalu, laporan media di sana memberitakan peternakan resmi keledai pertama di negara itu yang memelihara beberapa ras keledai terbaik.
Dan ini adalah bisnis besar. Menurut pakar hubungan Tiongkok-Afrika Prof Lauren Johnston, dari Universitas Sydney, nilai pasar Ejiao di Tiongkok meningkat dari sekitar USD3,2 miliar pada 2013 menjadi sekitar USD7,8 miliar pada 2020.
Hal ini telah menjadi kekhawatiran para pejabat kesehatan masyarakat, aktivis kesejahteraan hewan, dan bahkan penyelidik kejahatan internasional. Penelitian telah mengungkapkan bahwa pengiriman kulit keledai digunakan untuk memperdagangkan produk satwa liar ilegal lainnya. Banyak yang khawatir bahwa larangan nasional terhadap perdagangan ini akan membuat perdagangan ini semakin tersembunyi.
Bagi para pemimpin negara, ada pertanyaan mendasar. Apakah keledai lebih bernilai bagi negara berkembang, baik dalam kondisi hidup maupun mati?
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.