Suryo sendiri menjadi perwira TNI terakhir yang meninggalkan Timor Timur setelah negara tersebut pisah dari Indonesia. Sebagai perwira TNI yang terakhir di sana, dia juga menjadi pembawa dan mengemasi Sang Saka Merah Putih di wilayah itu.
Dalam proses penurunan bendera dilakukanlah upacara militer sederhana. Upacara tersebut dihadiri perwakilan dari UNTAET dan INTERFET (International Force for East Timor) pada 30 Oktober 1999.
Upacara tersebut menjadi akhir kedaulatan Indonesia atas Timor Timur. Sikap Patriotisme Suryo pun masih dikenang oleh para koleganya hingga sekarang. Termasuk Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.
“Yang saya lihat, dari sejak Letnan, Kapten, Mayor, ia terus berada di daerah operasi. Sampai dengan jadi Brigjen pun, sebagai Wakil Gubernur di Timor Timur, sebagai Wadanrem Timor Timur, beliau ada di lapangan di saat-saat genting. Beliau merupakan perwira tinggi terakhir dari TNI yang meninggalkan Timor Timur. Beliau membawa Bendera Merah Putih yang terakhir diturunkan di daerah Timor Timur,” ucap Prabowo dalam buku biografinya berjudul “Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto.
Profil Letjen TNI (Purn) Johannes Suryo Prabowo
Letjen TNI (Purn) Johannes Suryo Prabowo lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 15 Juni 1954. Dia adalah lulusan dari SMA Pangudi Luhur 1 Jakarta 1972. Usai lulus, Suryo langsung mendaftarkan diri sebagai Taruna Akademi Militer (Akmil), karena itu bagian dari cita-citanya.
Berangkat dari cita-citanya, Surya pun belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh hingga meraih Adhi Makayasa 1976 dari kesatuan Infanteri Kopassus. Dari situlah karier Suryo di militer mulai mentereng.
(Awaludin)